BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Perkembangan
peradaban Islam dari masa kemasa telah banyak mewarnai berbagai aspek kehidupan
sosial masyarakat di berbagai belahan dunia. Negeri-negeri yang berada
disemenanjung Arab, benua Afrika, Eropa sampai ke Indonesia telah dipengaruhi
oleh penyebaran budaya dan peradaban Islam. Perkembangan bidang pemikiran dan
filsafat, bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, bidang pemerintahan dan
politik telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi perkembangan masyarakat
di zaman modern. Pada masa silam kemajuan peradaban manusia terjadi pada masa
kekuasaan Islam di hampir semua belahan dunia. Ketika Islam berada pada masa
kejayaannya disaat yang sama Eropa sedang berada dalam masa kegelapan yang kita
kenal dengan istilah the darkness age.
Peradaban
Islam telah mengalami perubahan yang signifikan, hal ini dapat dilihat dari
perkembangan kebudayaan, pemikiran dan peradaban, baik pada masa Rosulullah,
Khulafaurrasyidin maupun pada masa Umayyah dan Abasiyah. Islam yang hadir di
tengah kerasnya peradaban jahiliyah, melaui Muhammad saw. Akan tetapi untuk
selanjutnya Islam mampu bermetamorfosa menyebar hampir ke seluruh penjuru
jagad. Setelah masa Rasulullah saw, yang kemudian dilanjutkan oleh masa
khulafaurrasyidin dan dinasti-dinasti Islam yang muncul sesudahnya. Dan telah
berhasil membangun peradaban dan kekuatan politik yang menandingi dinasti besar
lainnya pada masa itu, yakni Bizantium dan Persia
Melihat
pada pengaruh dari daulah dinasti Bani Umayyah terhadap perkembangan peradaban
Islam dan dunia inilah yang mendasari penulis dalam menulis makalah ini. Sebab
peradaban masa kini merupakan efek domino dari sejarah yang tidak putus. Dengan
meneliti dan memahami sejarah peradaban Islam pada masa Bani Umayyah I di
Bagdad dan Umayyah II di Andalusia kita akan dapat memetakan sejarah peradaban
Islam secara lebih spesifik. Pemetaan yang merupakan rantai tak terpisahkan
dari perkembangan peradaban modern.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Bagaimana Asal Usul Umayyah I
dan Bani Umayyah II?
2.
Bagaimana pemerintahan dan
perkembangan Banu Umayyah I dan Bani Umayyah II ?
3.
Apa yang menyebabkan kemunduran
Umayyah I dan Bani Umayyah II?
C.
BATASAN
MASALAH
1.
Bagaimana sejarah munculnya Bani
Umayyah I dan Bani Umayyah II?
2.
Bagaimana sistem pemerintahan,
hasil peradaban Bani Umayyah I dan Bani Umayyah II?
3.
Hal apakah yang menyebabkan
runtuhnya Bani Umayyah I dan Bani Umayyah II?
D.
TUJUAN
MAKALAH
1.
Mengetahui lebih lanjut tentang
Umayyah I dan Bani Umayyah II.
2.
Bisa mengambil ibrah dari
sejarah Umayyah I dan Bani Umayyah II.
3.
Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Sejarah Kebudayaan Islam dan Budaya Lokal.
E.
MANFAAT
MAKALAH
Makalah
ini disusun guna memahami lebih lanjut pemahaman tentang Umayyah I dan Bani
Umayyah II serta mengembangkan studi lanjut tentang Umayyah I dan Bani Umayyah
II.
BAB II
PEMBAHASAN
v BANI UMAYAH I
A. Asal Usul Bani Umayyah I
Nama Umayyah merujuk pada seorang Quraisy di
masa Jahiliyah. Dia adalah Umayyah bin Abdus Syam bin Abdi Manaf. Masih
terhitung saudara dari Bani Hasyim (keluarga besar Rasulullah SAW), karena
Hasyim (ayah Abdul Muthalib) juga salah satu Putra Abdi Manaf. Jadi, Abdi Manaf
adalah kakek moyang kedua Bani tersebut. Tetapi, sekalipun satu kakek
moyangnya, sejak zaman Jahiliyah Bani
Umayyah juga tidak jarang mengganggu keberhasilan Bani Hasyim. Abdul
Muthalib, pemimpin Ka’bah saat itu, diganggu oleh Abdus Syam dan Umayyah. Ketika menemukan kembali mata
air zamzam, Umayyah dan bapaknya
meminta bagian agar dapat mengurusi mata air itu. Tetapi karena penduduk Mekkah
tidak berkenan dengan tindakan mereka itu, maka keluarga Abdus Syam tersebut
meninggalkan Mekkah menuju Damaskus karena merasa malu.
Pada masa Muhammad diangkat sebagai Rasul Allah, Bani Umayyah merupakan keluarga kaya,
terdidik dan berpengaruh. Salah satu dari mereka adalah pemimpin Kaum Quraisy
Mekkah. Dia adalah Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah. Kecintaannya kepada harta
dan kekuasaan membuat dia dan keluarganya tidak mau mengakui kebenaran Islam
sebagai ajaran yang mulia. Oleh karena itu, Abu Sufyan tidak mau tunduk terhadap
ajakan Rasulullah SAW, bahkan terus memusuhi. Aktivitas dakwah Rasulullah SAW yang dianggapnya
akan mengubah keadaan sosial, ekonomi, dan politik Mekkah, tentu merugikan para
orang kaya, termasuk Bani Umayyah.
Untuk itu, berbagai cara dilakukan guna menggagalkan gerakan reformasi yang
dibangun Rasulullah SAW tersebut. Sampai-sampai, cara-cara kekerasan (perang)
pun mereka lakukan. Tercatat beberapa perang besar (Perang Badar, Perang Uhud,
dan Perang Khandaq) pasca hijrah, melibatkan kepemimpinan Abu Sufyan.
Abu Sufyan dan
keluarga, akhirnya masuk Islam dengan terpaksa pada saat berpuluh-puluh ribu
kaum Muslimin mengepung Mekkah dari segala penjuru. Walapun banyak sahabat
tidak suka terhadap masuk Islamnya keluarga Abu Sufyan, Rasulullah SAW tetap
menghormati perubahan sikapnya. Kesalahan-kesalahannya diampuni, bahkan
Muawiyah putra Abu Sufyan diangkat sebagai sekretaris beliau dan saudara
perempuannya, Ummu Habibah diperistri oleh Beliau. Setelah beberapa tahun
bergabung sebagai kaum Muslimin, keluarga terdidik dan berpengaruh ini ikut
membesarkan Islam. Di masa Abu Bakar Sidiq, keluarga Abu Sufyan dan Bani
Umayyah merasa rendah diri karena kelas mereka berada di bawah kaum Muhajirin
dan Ansar. Mereka tahu diri bahwa perjuangan mereka belum apa-apa dibanding
dengan kedua kaum di atas. Apalagi di masa dahulu, mereka memusuhi perjuangan
Rasulullah SAW dan kaum Muslimin. Oleh karena itu, mereka maklum ketika Khalifah
Abu Bakar menyatakan di depan umum bahwa keluarga besar Bani Umayyah harus ikut
berjuang membela Islam termasuk di medan perang, bila ingin setingkat dengan
kaum Muhajirin dan Ansar. Beberapa peperangan yang terjadi di masa Abu Bakar
ini anggota Bani Umayyah ikut serta dibarisan kaum Muslimin. Bahkan, Yazid bin
Abu Sufyan menjadi salah satu panglima untuk memimpin pasukan ke Syiria melawan
Bizantium.
Pada masa Umar,
ketika wilayah Islam semakin meluas dan membutuhkan banyak tenaga
administratif, sang Khalifah memanfaatkan tenaga-tenaga Bani Umayyah yang umumnya terdidik untuk membaca, menulis, dan
berhitung. Bahkan, Yazid dan Muawiyah dipercaya untuk mengelolah wilayah
Syiria. Kepercayaan Khalifah Umar ini tidak disia-siakan oleh Bani Umayyah. Mereka bekerja dengan
tekun dan dikenal sukses dalam mengerjakan tugas-tugas administratif. Periode
Umar inilah awal mula Bani Umayyah
menduduki posisi-posisi penting. Namun karena kewibawaan sang Khalifah yang
bersih dan berwibawa, mereka tidak berani bertindak macam-macam, seperti
korupsi dan sejenisnya.
Pada masa Ustman,
kebijakan mempekerjakan tenaga-tenaga Bani
Umayyah seperti masa Umar, tetap dilanjutkan. Bahkan Ustman mempercayai
mereka untuk jabatan-jabatan strategis. Enam tahun pertama, Ustman sukses membangun
Negara. Namun, pada enam tahun berikutnya, karena usia Ustman yang semakin
uzur, maka posisi Bani Umayyah
semakin kuat. Melalui sekretaris Negara Marwan bin Hakam yang juga salah satu
anggota Bani Umayyah, mereka
menempatkan kroni-kroninya pada posisi strategis. Praktek-praktek KKN (Korupsi,
Kolusi, dan Nepotisme) dijalankan dengan penuh kesungguhan. Hal inilah yang
menjadi awal bencana hingga terbunuhnya Khalifah Ustman.
Pada era Ali,
keluarga Umayyah yang menjabat
posisi-posisi penting pada pemerintahan Ustman, semuanya dicopot. Kebijakan Ali
yang keras inilah yang mendorong mereka menentang pengangkatan Ali sampai
membuat pecahnya Perang Siffin. Namun, keberuntungan memang ada dipihak mereka
pada saat Perang Siffin mengangkat Muawiyah menjadi Khalifah tandingan. Bahkan
lebih beruntung lagi ketika Hasan bin Ali yang menggantikan kepemimpinan
ayahnya mengakui Muawiyah sebagai Khalifah yang sah di seluruh wilayah
kekuasaan Islam. Sejak itulah mereka mulai membangun pemerintahan Islam warisan
Rasulullah SAW dan para sahabat tersebut menjadi pemerintahan milik keluarga
besar Bani Umayyah.
B.
Perkembangan Dinasti Bani Umayyah
Meskipun ummat Islam telah bersatu dalam
satu kepemimpinan, kekhalifahan Muawiyah yang diperoleh melalui kekerasan,
diplomasi dan tipu daya, dan tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak telah
melahirkan golongan-golongan oposisi yang pada akhirnya nanti akan menjadi
sebab kehancuran Dinasti tersebut.
Adik laki-laki al-Hasan, Husein yang pada
masa pemerintahan Muawiyah hidup tenang di Madinah tidak mau mengakui pengganti
Muawiyah yaitu Yazid. Ia pergi ke Kuffah untuk memenuhi seruan penduduk Irak
yang akan menobatkannya sebagai khalifah pada tahun 680 M. Namun pada 10
Muharram 61 H (10 oktober 680) seorang jenderal terkenal dengan nama Sa’ad bin
Abi Waqqas membawa 4000 pasukan mengepung al-Husein yang hanya didampingi 200
orang. Al-Hasan pun tidak selamat dalam pembantaian tersebut.
Adapun
Khalifah-khalifah Bani Umayah adalah sebagai berikut:
1. Muawiyah I bin Abu Sufyan, 41-61 H / 661-680
M
2. Yazid I bin Muawiyah, 61-64 H / 680-683 M
3. Muawiyah II bin Yazid, 64-65 H / 683-684
M
4. Marwan I bin al-Hakam, 65-66 H / 684-685
M
5. Abdul-Malik bin Marwan, 66-86 H / 685-705
M
6. Al-Walid I bin Abdul-Malik, 86-97 H /
705-715 M
7. Sulaiman bin Abdul-Malik, 97-99 H /
715-717 M
8. Umar II bin Abdul-Aziz, 99-102 H /
717-720 M
9. Yazid II bin Abdul-Malik, 102-106 H /
720-724 M
10. Hisyam bin Abdul-Malik, 106-126 H /
724-743 M
11. Al-Walid II bin Yazid II, 126-127 H /
743-744 M
12. Yazid III bin al-Walid, 127 H / 744 M
13. Ibrahim bin al-Walid, 127 H / 744 M
14. Marwan II bin Muhammad, 127-133 H /
744-750 M
Adapun khalifah-khalifah besar Bani Umayah
adalah Muawiyah I bin Abu Sufyan, Abdul-Malik bin Marwan, Al-Walid I bin
Abdul-Malik, Umar II bin Abdul-Aziz, Hisyam bin Abdul-Malik. Puncak kejayaan
Dinasti Bani Umayah ini pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, setelah itu
merupakan masa kemundurannya.[9]
C.
Kemajuan Dinasti Bani Umayah
Terbentuknya Dinasti Umayyah merupakan
gambaran awal bahwa umat Islam ketika itu telah kembali mendapatkan
identitasnya sebagai negara yang berdaulat, juga merupakan fase ketiga
kekuasaan Islam yang berlangsung selama lebih kurang satu abad (661 - 750 M).
Perubahan yang dilakukan, tidak hanya sistem kekuasaan Islam dari masa
sebelumnya (masa Nabi dan Khulafaurrasyidin) tapi juga perubahan-perubahan lain
di bidang sosial politik, keagamaan, intelektual dan peradaban.[10]
1.
Dinamika Politik
Dalam awal perkembangannya, dinasti ini
sangat kental diwarnai nuansa politiknya yaitu dengan memindahkan ibukota
kekuasaan Islam dari Madinah ke Damaskus.[11]
Kebijakan itu dimaksudkan tidak hanya untuk kuatnya eksistensi dinasti yang
telah mendapat legitimasi politik dari masyarakat Syiria, namun lebih dari itu
adalah untuk pengamanan dalam negeri yang sering mendapat serangan-serangan
dari rival politiknya.
i.
Sistem
Penggantian kepala Negara bersifat Monarchi.[12]
Pemindahan sistem kekuasaan juga dilakukan Muawiyyah, sebagai bentuk
pengingkaran demokrasi yang dibangun masa Nabi dan Khalifah yang empat. dari
kekhalifahan yang berdasarkan pemilihan atau musyawarah menjadi kerajaan turun
menurun (monarch/ heridetis)[13]
ii.
Sistem
Sosial (Arab dan Mawali). Pada masa Nabi dan khalifah yang empat, keanggotaan
masyarakat secara umum dalam segala hal hanya dibatasi berdasarkan keagamaan,
sehingga masyarakat secara garis besar terdiri muslim dan non muslim, dan dalam
memperlakukan orang Islam sebagai mayoritas dapat dibedakan menurut dua
kriteria, pertama yang menjurus kepada hal-hal yang praktis dan seringkali
diterapkan pada kelompok, dan kreteria kedua berupa tindakan pengabdian kepada
masyarakat yang sifatnya tebih personal. Sebagai tambahan atas kedua kriteria
itu, pada Dinasti Umayyah syarat keanggotaan masyarakat harus berasal dari
orang Arab, sedangkan orang non Arab setelah menjadi Muslim harus mau menjadi
pendukung (mawali) bangsa Arab.
Dengan demikian masyarakt muslim pada masa Dinasti Umayyah terdiri dari dua
kelompok, yaitu Arab dan Mawali.[14]
Dikalangan kaum Mawali lahirlah satu gerakan
rahasia yang terkenal dengan nama Asy-Syu’ubiyyah yang bertujuan melawan paham
yang membedakan derajat kaum Muslimin yang sebetulnya mereka bersaudara. Dan
yang membedakan hanyalah ketaqwaan mereka serta banyak kaum Mawali yang
bersikap membantu gerakan Bani Hasyim turunan Alawiyah, bahkan juga memihak
kaum Khawarij.[15]
Kebijaksanaan dan Orientasi Politik. Selama
lebih kurang 90 tahun Dinasti Bani Umayah ini memerintah, banyak terjadi
kebijaksanaan politik yang dilakukan pada masa ini, seperti:
a.
Pemisahan
Kekuasaan. Terjadi dikotomi antara kekuasaan agama (spiritual power) di tunjuklah qadhi/ hakim dan kekuasaan politik (temporal power). Dapatlah dipahami
bahwa Mu’awiyah bukanlah seorang yang ahli dalam keagamaan sehingga diserahkan
kepada para Ulama.[16]
b.
Pembagian
wilayah. Khalifah bin Khattab terdapat 8 Provinsi, maka pada masa Bani Umayah
menjadi 10 Provinsi Wilayah kekuasaan terbagi dalam 10 provinsi, yaitu:[17]
1.
Syiria dan
Palestina;
2.
Kuffah dan
Irak;
3.
Basrah,
Persia, Sijistan, Khurasan, Bahrain, Oman, Najd dan Yamamah;
4.
Arenia;
5.
Hijaz;
6.
Karman dan
India;
7.
Egypt
(Mesir);
8.
Ifriqiyah
(Afrika Utara);
9.
Yaman dan
Arab selatan, dan
10.
Andalusia.
iii.
Bidang
Administrasi Pemerintahan. Dibidang pemerintahan, dinasti membentuk semacam
Dewan Sekretaris Negara (Diwan al Kitabah) yang terdiri dari lima orang
sekretaris yaitu : Katib ar Rasail, Katib al Kharraj, Katib al Jund, Katib asy
Syurtah dan katib al Qadi.[18]
Untuk mengurusi administrasi pemerintahan daerah di angkat seorang Amir al
Umara (Gubemur Jenderal) yang membawahi beberapa amir sebagai penguasa satu
wilayah.
Pada masa Abdul Malik bin Marwan, jalannya pemerintahan ditentukan,
oleh empat departemen pokok (diwan) yaitu :
·
Dewan
Rasail (istilah sekarang disebut sekretaris jenderal). Diwan ini berfungsi
untuk mengurus surat-surat negara yang ditujukan kepada para gubernur atau
menerima surat-surat dari mereka. Ada dua macam sekretariat. Pertama, sekretariat negara (dipusat)
yang menggunakan bahasa arab sebagai pengantar. Kedua, sekretariat Provinsi yang menggunakan bahasa Yunani (Greek)
dan Parsi sebagai bahasa pengantarnya kemudian menjadi bahasa arab sebagai
pengantar ini terjadi setelah bahasa arab menjadi bahasa resmi di seluruh
negara Islam.[19]
·
Diwan
al-Kharaj. Bertugas untuk mengurus masalah pajak, yang dikepalai oleh Shahib
al-Kharraj diangkat oleh khalifah dan bertanggung jawab langsung kepada
khalifah.[20]
·
Diwan
al-Barid. Merupakan badan intelijen negara yang berfungsi sebagai penyampai
berita-berita rahasia daerah kepada pemerintah pusat. Pada masa pemerintahan
Abdul Malik berkembang menjadi Departemen Pos khusus urusan pemerintah.[21]
·
Diwan
al-Khatam (departemen pencatatan). Setiap peraturan yang dikeluarkan oleh
khalifah harus disalin di dalam suatu register, kemudian yang asli harus di
segel dan dikirim ke alamat yang dituju.[22]
·
Politik
Arabisasi. Dengan tatanan masyarakat yang homogin tersebut, menimbulkan ambisi
penguasa dinasti ini untuk mempersatukan masyarakat dengan politik Arabisme,[23]
yaitu membangun bangsa Arab yang besar dan sekaligus menjadi kaum muslimin.
Usaha-usaha ke arah itu antara lain mewajibkan untuk membuat akte kelahiran
masyarakat Arab bagi anak-anak yang lahir di daerah-daerah penaklukan,
kewajiban berbahasa Arab bagi penduduk daerah Islam dan bahkan adat istiadat
serta sikap hidup mereka diharuskan menjadi Arab.[24]
Pada masa Bani Umayah (sejak Khalifah Abd Malik bin Marwan), berkembang istilah
Arabisasi artinya usaha-usaha pengaraban oleh Bani Umayah di wilayah-wilayah
yang dikuasai Islam. Bidang ini dilakukan Bani Umayah antara lain dalam
pengangkatan kepala-kepala wilayah dari bangsa arab untuk ditempatkan pada
wilayah-wilayah yang dikuasai. Disamping itu ia mengajarkan bahasa arab
diseluruh wilayah Islam. Penerjemahan buku-buku berbahasa asing ke dalam bahasa
arab.[25]
·
Kebijakan
politik Dinasti Umayyah lainnya adalah upaya-upaya perluasan wilayah kekuasaan.
Pada zaman Muawiyyah, Uqbah bin Nafi' berhasil menguasai Tunis yang kemudian
didirikan kota Qairawan sebagai pusat kebudayaan Islam pada tahun 760 M. Di
sebelah, Muawiyyah memperoleh daerah Khurasan sampai ke Lahore di Pakistan. Di
sebelah barat dan utara diarahkan ke Bizantium dan dapat menundukkan Rhodes dan
pulau-pulau lain di Yunani. Pada tahun 48 H, Muawiyyah merencanakan penyerangan
laut dan darat terhadap Konstantinopel, tetapi gagal setelah kehilangan pasukan
dan kapal perang mereka.[26]
Zaman Walid I, dengan dibantu tiga orang
pimpinan pasukan terkemuka sebagai penaduduk yaitu: Qutaybah Sbin Muslim, Muhammad
bin al Qasim dan Musa bin Nashir, ekspansi ke barat dan ke mencapai
keberhasilan. Ekspansi ke barat dilakukan oleh Musa bin Nashir, berhasil
menundukkan Aljazair dan Maroko, kemudian ia mengangkat Tariq bin Ziyad sebagai
wakilnya untuk memerintah di daerah itu dan melakukan perebutan kekuasaan dalam
kerajaan Gotia Barat di Spanyol untuk ditaklukkan, akhirnya Toledo ibukota
Spanyol jatuh ke tangan pasukan muslim menyusul kota Seville, Malaga, Elvira
dan Cordoua yang kemudian menjadi ibukota Spanyol Islam (al Andalus).[27]
Setelah menaklukkan Spanyol, Musa bin Nashir
ambil bagian ke Spanyol dan melanjutkan ekspansinya dengan merampas Carmona,
Cadiz di sebelah tenggara dari Calica di sebelah barat laut. Dia memutuskan
untuk meneruskan ekspansinya ke sebelah selatan Perancis, namun ada
kekhaiwatiran dari Walid I atas pengaruh Musa bin Nashir yang mungkin akan
memproklamirkan seluruh negara yang ditaklukkan, maka Walid 1 memerintahkan
untuk mangakhiri ekspansinya ke Eropa dan memanggil Musa dan Tariq ke Damaskus.[28]
Di masa Abdul Malik, Qutaybah diangkat oleh
al Hajjaj bin Yusuf, gubernur Khurasan, menjadi wakilnya pada tahun 86
H.Bersama pasukannya, Qutaybah dapat menundukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm,
Farghana dan Masarkand. Usaha ekspansinya ke Cina di urungkan, karena
delegasinya disuruh kembali kepada pemimpinnya dengan saling tukar menukar
cenderamata, Qutaybah menerima uang dan mencetak materai dengan bantuan pemuda
kerajaan kemudian menjelajahi kekuasannya dan pulang ke Merv, ibukota Khurasan.[29]
Muhammad bin Qasim dipercaya oleh al Hajjaj
untuk menundukkan India. Pada tahun 89 H, ia menuju ke Sind dan mengepung
pelabuhan Deibul di muara sungai Indus, kemudian tempat itu diberi nama Mihram.
la memperluas penaklukannya hingga ke Maltan sebelah selatan Punjab dan
Brahmanabat.[30]
2.
Dinamika Ekonomi
Kemenangan-kemenangan yang diperoleh umat
Islam secara luas itu, menjadikan orang-orang Arab bertempat tinggal di daerah
penaklukan dan bahkan menjadi tuan-tuan tanah. [31]Kepada
pemilik tanah diwajibkan oleh Dinasti Umayyah untuk membayar pajak tanah, namun
pajak kepala hanya berlaku kepada penduduk non muslim sehingga mengakibatkan
banyaknya penduduk yang masuk Islam, akibatnya secara ekonomis penghasilan
negara berkurang, namun demikian dengan keberhasilan Dinasti Umayyah
menaklukkan Imperium Persia beserta wilayah kepunyaan Imperium Byzantium,
sesungguhnya kemakmuran bagi Dinasti ini melimpah ruah yang mengalir untuk kas
negara.[32]
Kebijakan Dinasti di bidang ekonomi lainnya adalah menjamin keadaan aman untuk
laiu lintas darat dan laut, lalu lintas darat melalui jalan Sutera ke Tiongkok
guna memperlancar perdagangan sutera, keramik, obat-obatan dan wewangian,
sedangkan lalu lintas laut ke arah negeri-negeri belahan untuk mencari
rempah-rempah, bumbu. kasturi, permata, logam mulia, gading dan bulu-buluan.[33]
Keadaan demikian membuat kota Basrah dan Aden di teluk Persi menjadi lalu
lintas perdagangan dan pelabuhan dagang yang ramai, karena kapal-kapal dagang
dibawah lindungan armada Islam yang menuju ke Syiria dan Mesir hampir tak
pernah putus. Perkembangan perdagangan ini telah mendorong meningkatnya
kemakmuran Dinasti Umayyah.
Pada masa khalifah Abdul Malik, telah
dirintis industri kerajinan tangan berupa tiraz (semacam bordiran) yakni cap
resmi yang dicetak pada pakaian khalifah dan para pembesar pemerintahan, format
tiraz bertuliskan lafaz "La Ilaaha
Ilia Allah". Guna memperlancar produktifitas pakaian resmi kerajaan,
maka Abdul Malik mendirikan pabrik-pabrik kain, dan setiap pabrik diawasi oleh
Sahib at Tiraz yang bertujuan mengawasi tukang emas dan penjahit, menyelidiki
hasil karya dan membayar gaji mereka.[34]
3.
Dinamika Sosial
Seperti yang suda di jelaskan sebelumnya,
pada masa Dinasti Umayyah, bangsa Arab mendapatkan posisi terhormat daiam
masyarakat. Pada umumnya, bangsa Arab merupakan tuan tanah hasil rampasan
perang. Adanya dua kelompok masyarakat yang membangun Daulat Umayyah yakni
bangsa Arab dan non-Arab, berpengaruh positif pada motivasi orang-orang
non-Arab untuk memeluk agama Islam. Kebijakan ini juga berpengaruh pada
perkembangan dan perluasan pemakaian bahasa Arab dengan cepat.
Salah satu permasalahan yang pantas
disebutkan pada masa pemerintahan Bani Umayyah adalah munculnya penolakan para
sahabat terhadap sikap Mua'wiyah yang mengubah sistem sukses khalifah dari
pemilihan terbuka menjadi kerajaan yang mewariskan tahta kepada keturunan raja.
4.
Intelektual dan Keagamaan
Di zaman pemerintahan Abdul Malik terdapat
banyak bahasa yang digunakan dalam administrasi, seperti bahasa Persia, Yunani
dan Qibti, namun atas usaha Salih bin Abdur Rahman, sekretaris al Hajjaj, ia
mencoba menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa administrasi dan bahasa resmi di
seluruh negeri sehingga perhatian dan upaya penyempurnaan pengetahuan tentang
bahasa Arab mendorong lahirnya ahli bahasa yaitu Sibawaihi dengan karya
tulisnya al Kitab menjadi pegangan dalam soal tata bahasa Arab.
Dalam daerah kekuasaannya terdapat kota-kota
pusat kebudayaan yaitu Yunani Iskandariyah. Antiokia, Harran dan Yunde Sahpur
yang semula dikembangkan oleh imuwan-ilmuwan Yahudi, Nasrani dan Zoroaster
Khalifah Khalid bir'i Yazid bin Muawiyyah yang seorang orator dan berpikiran tajam
berupaya menerjemahkan buku-buku tentang astronomi, kedokteran dan kimia.
Khalifah Walid bin Abdul Malik memberikan
perhatian kepada bimarstan, yaitu rumah sakit sebagai tempat berobat, perawatan
orang sakit dan studi kedok-teran yang berada di Damaskus, sedangkan khalifah
Umar bin Abdul Aziz menyuruh para ulama secara resmi untuk membukukan
hadits-hadits Nabi, dan selain itu ia bersahabat dengan ibn Abjar, seorang
dokter dan Iskandariah yang kemudian menjadi dokter pribadinya.[35]
Pengaruh lain dan ilmuwan kristen itu adalah
penyusunan ilmu pengetahuan secara sistematis, selain itu berubah pula sistem
hafalan dalam pengajaran kepada sistem tulisan menurut aturan-aturan ilmu
pengetahuan yang berlaku. Pendukung dalam pengembangan ilmu adalah golongan non
Arab dan telaahnya pun sudah meluas sehingga ada spesialisasi ilmu menjadi :
ilmu pengetahuan bidang agama, bidang sejarah, bidang bahasa dan bidang
filsafat.[36]
Ilmuwan itu antara lain Sibawaihi, al Farisi, al Zujaj (ahli nahwu), al Zuhpy,
Abu Zubair, Muhammad bin Muslim bin Idris dan Bukhari Musiim (ahli Hadits) dan
Mujahid bin Jabbar (ahli tafsir).
5.
Tali Ikatan Persatuan Masyarakat (Politik dan Ekonomi)
Ekspansi Islam yang berlangsung dari
pertengahan abad ke tujuh sampai permulaan abad ke delapan, salah satu hasilnya
ialah terintegrasinya daerah-daerah yang ditaklukkan itu dalam suatu kesatuan
sosial politik yang disebut Dunia Islam.
Selanjutnya dunia Islam itu merupakan suatu kawasan ekonomi yang terpadu
dala suatu jaringan pasaran bersama. Wilayah inti meliputi daerah-dearah bekas
kerajaan Persia, Imperium Bizantium di Suria dan Mesir serta daerah-daerah
Barbar di Mediterinian (Afrika Utara dan Spanyol) itu, merupakan salah satu
jaringan penting dari rute utama perdagangan Internasional yang
terbentang antara China dan Spanyol, dan antara Afrika Hitam dengan Asia
Tengah.[37]
D.
Kedudukan Amir al-Mu’minin
Pada masa ini Amir al-Mu’minin hanya
bertugas sebagai khalifah dalam bidang temporal sedangkan urusan keagamaan di
urus oleh para ulama. Berbeda dengan Khulafa al-Rasydun yang menguasai
keduanya. Dan pada masa ini khalifah diangkat secara turun temurun dari
keluarga Umayah.[38]
Sumber uang masuk pada Dinasti Bani Umayah,
pada umumnya seperti di zaman permulaan Islam. Walaupun demikian ada beberapa
tambahan seperti al-Dharaaib yaitu kewajiban yang harus dibayar oleh warga
negara dan terdapat pajak-pajak istimewa. Adapun saluran uang keluarnya sama
seperti permulaan Islam, seperti gaji para pegawai dan tentara, serta biaya
tata usaha negara, pembangunan pertanian termasuk irigasi dan penggalian
terusan-terusan, ongkos bagi orang-orang hukuman dan tawanan perang,
perlengkapan perang, serta hadiah-hadiah kepada para pujangga dan para Ulama.
Pada masa Umayah di cetak mata uang muslimin
secara teratur dan pembayaran dengan mata uang ini, walaupun pada masa Umar bin
Khattab sudah dicetak mata uang kaum muslimin namun belum begitu teratur
seperti pada khalifah Abdul Malik bin Marwan.
F.
Interregnum (Masa Peralihan Pemerintahan) Umar bin
Abdul Aziz
Interregnum ini terjadi pada masa Khalifah
Umar bin Abdul Aziz yang mana pada peerintahan yang dulunya kejam, menekan
rakyat dan sebagainya, menjadi kepada masa yang damai, lemah, lembut dan
makmur. Dengan kebijaksanaannya ini banyak orang yang masuk Islam. Dan
mengadakan dialog dengan orang syi’ah dan khawarij sehingga mereka puas dan
tidak mengganggu lagi. Namun kedamaian dan kemakmuran ini dimanfaatkan oleh
Bani Hasyim untuk membentuk gerakan bawah tanah. Gerakan ini terdiri dari
orang-orang Syi’ah dan keluarga Abbas. Gerakan inilah yang berhasil
menumbangkan bani Umayah nantinya.[40]
Kehakiman pada masa ini mempunyai dua ciri
khas, yaitu pertama, qadhi memutuskan
perkara dengan ijtihadnya berdasarkan Nas. Kedua,
kehakiman belum terpengaruh dengan politik.
Masa Bani Umayah ini merupakan peletak dasar
pembangunan peradaban Islam yang nanti pada masa Bani Abbas merupakan puncak
dari peradaban Islam. Pada masa ini ilmu Naqliyah mulai berkembang.
Perkembangan yang aling menonjol adalah ilmu tafsir dan ilmu hadits. Dan
terjadi pengumpulan hadits pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang
dikumpulkan oleh ‘Ashim al-Anshari. Muncul juga ilmu Nahwu (tata bahasa Arab)
sehingga Sibawaihi menyusun al-kitab untuk memperlajari tata bahasa arab.
Khalifah Mu’awiyah memerinthkan karya-karya
bangsa Yunani yang mengandung berbagai macam Ilmu. Dengan demikian umat Islam
pada masa ini mulai mengenal ilmu kedokteran, ilmu Kalam, seni bangunan
(architecture) dan sebagainya. Diantara peninggalan seni bangunan yang terkenal
sampai sekarang adalah Qubbah al-Sakhr
(Dome of the Rock) yang didirikan di Yerussalem pada 91 H pada masa
pemerintahan Khalifah Abdul Malik.
I.
Sistem Militer
Pada masa Dinasti Bani Umayah orang masuk
tentara kebanyakan dengan dipaksa atau setengah dipaksa. Untuk menjalankan
kewajiban ini dikeluarkan semacam undang-undang wajib militer yang dinamakan Nidhamut Tajnidil Ijbary.
Politik ketentaraan dari Bani Umayah, yaitu
politik Arab, dimana anggota tentara haruslah terdiri dari orang-orang Arab
atau unsur Arab. Maka dari itu mereka terpaksa meminta bantuan kepada bangsa
Barbari untuk menjadi tentara karena wilayah mereka yang luas meliputi Afrika
Utara, Andalusia, dan lain-lain.
1.
Perluasan
Ke Asia Kecil
Dengan armada laut yang terdiri dari 1700
kapal, lengkap dengan perbekalan dan persenjataannya. Lalu Mu’awiyah menyerang
pulau-pulau dilaut tengah sehingga berhasil menduduki pulau Rhodes tahun 53 H
dan pulau Kreta tahun 54 H. Kemudian di serang kota Konstatinopel. Pulau-pulau
ini dekat Cyprus yang telah ditaklukkan pada zaman Usman. Penyerangan ini
dipimpin oleh Janadah bin Abi Umayah. Kemudian mengepung kota Konstatinopel di
bawah pimpinan Yazid bin Mu’awiyah dan didampingi oleh pahlawan Islam yang
berani seperti Abu Ayyub al-Anshar, Abdullah ibnu Zuber, Abdullah ibnu Umar dan
Ibnu Abbas. Pengepungan ini selama 7 tahun (54-61 H). Abu Ayyub al-Anshar gugur
pada peperangan ini. Penyerangan pertama ini gagal karena ada pengkhianatan
Loen Mar’asy. [43]
2.
Perluasan
ke Timur
Ke arah Timur dapat menaklukkan daerah
Khurasan sampai ke sungai Oxus dan dari Afghanistan sampai ke Kabul. Kemudian
diteruskan pada zaman bd. Malik di bawah pimpinan Al- Hajjaj ibn Yusuf.
Kemudian dapat menundukkan daerah Balkh, Bukhara, Khawarizan, Fergnana, dan
Samarkand. Selanjutnya pasukan muslim juga samapi ke India serta dapat
menguasai Balukhistan, Sind, dan daerah Punjab sampai ke Multan (713 H).[44]
3.
Perluasan
ke Afrika Utara
Uqbah ibn Nafi’ al-Fahri telah menetap di
Barqah setelah wilayah itu dikuasai. Oleh karena kemahiran dan keberaniannya,
ia mengalahkan armada Bizantium di daerah pantai, barbar dipedalaman, serta
Tripoli dan Fazzan.[45]
Kekuatan Maritim Islam menjadi lebih
berkembang pada masa Umayah timur. Pada masa Khalifah al-Walid. Jenderal Thariq
bin Ziyad dapat menyeberangkan ajaran Isla ke Spanyol. Dan pada tahun 95 H/ 713
M dapat membebaskan rakyat Spanyol dan Eropa dari penindasan bangsa Visigoth
(Gothik) Barat yang telah berkuasa selama 300 tahun.[46]
Ketika Yazid ibn Mu’awiyah naik tahta,
sejumlah tokoh terkemuka Madinah tidak mau menyatkan setia kepadanya. Yazid
kemudian mendirim surat kepada Gubernur Madinah meminta untuk memaksa penduduk
mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara ini semua orang terpaksa tunduk
kecuali Husein ibn Ali dan Abdullah ibn Zubair. Pada tahun 680 M, Husein pindah
dari Mekah ke Kufah atas permintaan golongan Syiah di Irak. Umat Islam di
daerah ini mengakui khaifahnya adalah Husein. Sehingga terjadi pertempuran dan
tentra Husein kalah sedangkan Husein mati terbunuh. Kepalanya dipenggal dan
dikirim ke Damaskus, sedang tubuhnya dikubur di Karbela.
Gerakan Syiah semakin keras, gigih dan
tersebar luas. Pemberontakan yang paling terkenal diantaranya adalah
pemberontakan Mukhtar di Kufah pada tahun 685-687 M. Walaupun dibantu oleh
kalangan kaum mawali di Persia, Armenia dan lain-lain, Mukhtar terbunuh
oleh pasukan oposisi lainnya yaitu gerakan Abdullah ibn Zubair.
Abdullah ibn Zubair baru secara terbuka
menyatakan khalifah setelah Husein bin Ali terbunuh. Tentara Yazid kemudian
mengepung Mekah dan akhirnya terjadi pertempuran, pada pertempuran ini Abdullah
bin Zubair dikabarkan wafat, maka tentara Yazid kembali ke Damaskus. Gerkaan
Abdullah ini baru dapat dihancurkan pada masa khalifah Abdul Malik pada tahun
693 M.
K.
Prestasi Dinasti Umayyah
1. Bidang Fisik
Dalam pembangunan fisik, pada Diansti
Umayyah telah didirikan pos-pos yang pada pemerintahan sebelumnya tidak
ditemukan. Lebih lengkapnya, dapat dikatakan bahwa beberapa prestasi Dinasti
Umayyah dalam pembangunan fisik adalah sebagai berikut:
a.
Membangun
pos-pos serta menyediakan kelengkapan peralatannya.
b.
Membangun
jalan raya.
c.
Mencetak
mata uang.
d.
Membangun
panti asuhan.
e.
Membangun
gedung pemerintahan.
f.
Memblingun
mesjid.
g.
Membangun
rumah sakit.
h.
Membangun
sekolah studi kedokteran.[48]
2. Perluasan Wilayah Kekuasaan.
Dalam hal perluasan wilayah, Dinasti Umayyah
menjalankan ekspansi sebagai berikut:
a.
Menguasai
Tunis pada tahun 760 M di bawah pimpinan Uqbah bin Nafi'.
b.
Menguasai
Khurasan hingga Lahore di sebelah Timur.
c.
Menguasai
Bizantium.
d.
Menguasai
Rhodes dan pulau-pulau kecil lainnya di Yunani.
e.
Di sebelah
Barat, Dinasti Umayyah berhasil menaklukkan Aljazair dan Maroko.
f.
Selanjutnya,
Dinasti Umayyah berhasil menaklukkan Andalusia yakni Toledo, Sevilla, Malaga,
Elvira dan Cordova.
g.
Penaklukkan
yang sama berlanjut hingga ke Cadiz dan Calica.
h.
Menaklukkan
Baikh, Bukhara, Khawarizm, Farghana dan Samarqand.
i.
Menaklukkan
India, hingga ke Brahmanabat.[49]
L.
Kemunduran dan Kehancuran Dinasti Bani Umayah
Dinasti yeng didirikan oleh Muawiyyah bin
Abu Sofyan ini, dari beberapa khalifah yang memegang kekuasaan, hanya beberapa
orang saja yang dianggap berhasil dalam menjalankan roda pemerintahannya antara
lain : Muawiyyah bin Abu Sofyan, Abdul Malik bin Marwan, al-Walid bin Abdul
Malik, Umar bin Abdul Aziz dan Hisyam bin Abdul Maiik, selain mereKa itu
merupakan khalifah yang lemah. Dinasti ini mencapai puncaknya pada masa al
Walid I bin Abdul Malik dan kemudian akhirnya menurun dan kekuasaan mereka
direbut oleh Bani Abbasiyah pada tahun 750 M.[50]
Diantara faktor penyebab keruntuhan Dinasti
Umayyah ini, menurut Hasan Ibrahim Hasan adalah :
1.
Pengkatan Dua Putera Mahkota
Perubahan sistero kekuasaan, dari sistem
demokrasi kepada monarchi yang dirintis Muawiyyah bin Abu Sofyan, berakibat
pada tumbuhnya bibit permusuhan dan persaingan diantara sesama anogota keluarga
dinasti dan ditambah dengan langkah pengangkatan dua putera mahkota yang diberi
mandat, agar putera mahkota yang kedua sebagai pelanjut sesudah yang pertama,
hal itu dilakukan khalifah Marwan bin al Hakim dengan mengangkat Abdul Malik
bin Marwan dan Abdul Aziz, berikutnya adalah Abdul Malik mengikuti jejak
mendiang ayahnya dengan mengangkat puteranya, yatu al Walid dan Sulaiman.
Langkah ini tidak hanya menjadi permusuhan dan persaingan diantara sesama
anggota keluarga tetapi juga merembet masuk di lingkungan para panglima dan
pejabat.[51]
2.
Munculnya Fanatisme Suku
Setelah Yazid bin Muawiyyah meninggal,
fanatisme suku menyebar di tengah-tengah kabilah Arab namun belum sampai
membahayakan kekuatan Bani Umayyah dari rongrongan kakuatan lain yang
menginginkan kehancurannya sebagai pemegang supremasi politik umat Islam.
Kondisi tersebut masih dapat dikendalikan
terlebih dengan tampilnya Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah, ia seorang yang
saleh dan adil. Dalam masa pemerintahannya diisi dengan memperbaiki kerusakan
yang dilakukan oleh para khalifah Bani Umayyah sebelumnya, sehingga legalitas
kepemimpinannya diakui dan diterima oleh semua pihak yang tidak mengakui
pemerintahan Bani Umayyah. la terbebas dari fanatisme suku, karena ia tidak
mengangkat seorang menjadi gubernur melainkan berdasarkan kecakapan dan
keadilan yang dimiliki oleh yang bersangkutan.[52]
Namun ketika Umar bin Abdul Aziz wafat, dan
kekhalifahan dipegang Yazid bin Abdul Malik, saat itu fitnah dan perselisihan
diantara bangsa Arab utara (Arab Mudhar) /suku Qais dengan Arab selatan (Arab
Yaman) /bani Kalb memanas, yang kemudian terjadi perang Murj Rahith,[53]
yang mengkibatkan terbunuhnya al Mulahhab bin Abu Shufrah dari Arab Yaman, ia
seorang yang telah mengabdi seluruh hidup dan potensinya pada Bani Umayyah,
yaitu pembelaannya dalam perang al Azariqah menghadapi kaum khawarij, berjuang
memerangi penduduk Khurasan dan al Khazar serta orang-orang Turki. Sepeninggal
al Mulahhab, tampillah puteranya yang menjadi perhatian dan tumpuhan pihak Arab
Yamani untuk merongrong kedaulatan Dinasti Umayyah. Namun demikian Bani Umayyah
sekali waktu berpihak kepada Arab Qais dan dilain waktu kepada Arab Yaman.
Fanatisme suku dapat dilihat ketika Yazid
bin Abdul Malik mengangkat saudaranya yaitu Maslamah sebagai gubernur wilayah
setelah mereka berjasa menumbangkan pemberontakan putera al Mulahhab, dan juga
mengangkat Umar bin Kubairah yang berasal dari suku Qais.
Ketika Yazid wafat dan saudaranya yaitu
Hisyam naik tahta maka khalifah baru menilai bahwa posisi orang-orang Qais
dalam pemerintahan sudah terlalu kuat, dan hal ini, menurut Hisyam adalah
membahayakan kelangsungan pemerintahan Bani Umayyah, kemudian ia mengambil
tindakan dengan cara mengenyahkan orang-orang Qais dari kekuasaan dan balik
berpihak kepada unsur Yamani, ini dimaksudkan agar kadua unsur tersebut
berimbang.[54]
Untuk itu ia mengangkat Khalid bin Abdullah al Qasari sebagai gubernur Irak,
dan juga mengangkat saudara Khaiid yaitu Asad sebagai gubernur Khurasan. Dengan
demikian kekuatan unsur Yamani kembali berperan dan kekuatan unsur Qaisi
melemah, kemudian orang-orang dan unsur Yamani berkesempatan menumpahkan balas
dendam mereka kepada orang-orang dari unsur Qaisi.
Demikianlah fanatisme suku yang telah
mencabik-cabik Dinasti Umayyah. sehingga negara menjadi ajang bagi tumbuhnya
beragam fitnah dan kerusuhan dan kemudian keruntuhan dinasti ini teriadi.
3.
Terlena Dalam Kemewahan
Pola hidup sebagian khalifah Dinasti Umayyah
yang sangat mewah dan senang berfoya-foya sebagai warisan pola hidup para
penguasa Bizantium adalah faktor lain yang telah menanam andil besar bagi
keruntuhan dinasti ini. Yazid bin Muawiyyah adalah seorang khalifah dari
Dinasti Umayyah sangat terkenal sebagai pengagum berat wanita, memelihara para
penyanyi wanita, memelihara burung buas, singa padang pasir dan seorang
pecandu minuman karas.
Prilaku Yazid bin Abdul Malik juga tidak
lebih baik dari Yazid bin Muawiyyah, ia adalah pemuja wanita dan penggemar
pesta pora. Begitu pula dengan puteranya yaitu al Walid, ia seorang khalifah
yang sangat senang dengan kehidupan serba mewah dan terlena dengan romantika
asmara.[55]
4.
Fanatik Arab
Dinasti Umayyah adalah muni daulat Arab,
sehingga ia sangat fanatik kepada bangsa Arab dan kearabannya. Mereka memandang
orang non Arab (mawali) dengan pandangan sebelah mata, sehingga menimbulkan
fitnah diantara sesama kum Muslimin, disamping itu pula telah membangkitkan
nasionalisme di dalam Isiam. Bibit daripada geraka tersebut adalah anggapan
bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang paling utama dan mulia dan bahasa Arab
adalah bahasa yang paling tinggi dibanding dengan yang lain.
Tindakan diskriminatif tersebut telah
membangkitkan kebencian kaum mawali kepada Bani Umayyah, akhirnya sebagai kaum
tertindas mereka selalu mencari waktu yang tepat untuk melampiaskan
kebenciannya. Mereka menggabungkan diri dengan al Mukhtar dan kaum khawarij
untuk bersekutu dan ditambah dengan propagandis kaum abassi untuk memberontak
dan menggulingkan Dinasti Umayyah.[56]
Sekutu tersebut melakukan gerakan oposisi
terhadap Dinasti Umayyah dengan pimpinan Muhammad bin Ali dan kemudian
dilanjutkan kedua puteranya yaitu ibrahim dan Abu Abbas yang didukung oleh
masyas-akat pendukung Ali di Khurasan. Di bawah pimpinan panglimanya yang
tangkas, yaitu Abu Muslim al Khurasani, gerakan ini dapat menguasai wilayah
demi wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah dan bahkan dalam partempuran di Zab Hulu
sebelah Mosul, Marwan II. khalifah terakhir Dinasti Umayyah dapat dikalahkan,
Marwan II di bunuh di Mesir pada bulan Agustus 750 M dan berakhirlah kekuasaan
Dinasti Umayyah di Damaskus.
Menurut Yatim Badri, secara garis besar
faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran yang berujung pada kehancuran Dinasti
Bani Umayyah adalah:[57]
1.
Perebutan
kekuasaan antara anggota keluarga istana, pengaturan yang tidak jelas mengenai
pergantian khalifah. Sistim pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah
merupakan sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas.
2.
Latar
belakang terbentuknya Daulah Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari
konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa kaum Syi`ah
(pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka
seperti di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti dimasa
pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini
banyak menyedot kekuatan pemerintah.
3.
Pada masa
kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays)
dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin
meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat
kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Disamping itu, sebagian
besar golongan Mawali (non Arab), terutama di Irak dan wilayah bagian timur
lainnya, merasa tidak puasa karena status Mawali itu menggambarkan suatu
inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada
masa Bani Umayyah.
4.
Lemahnya
pemerintahan Daulah Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah
dilingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban
berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan, disamping itu, golongan
agama yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat
kurang.
5.
Penyebab
langsung tergulingnya kekuasaan Daulah Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan
baru yang dipelopori oleh keturunan Al-Abbas Ibn Abd Al-Muthalib. Gerakan
ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi`ah dan kaum
Mawali yang merasa dikelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.
v BANI
UMAYYAH II
A. Sejarah Berdirinya Bani Umayyah II
Berkuasa tahun 756-1031 M di Spanyol (Andalusia
dan Kordoba). Didirikan oleh Abdurrahman Ibn Marwan. Sebelumnya, Spanyol sudah
ditaklukkan oleh tiga pahlawan Islam yaitu Tharif bin Malik, Tharig bin Ziyad,
dan Musa bin Nushair. Spanyol dan kota-kota penting lainnya jatuh ketangan umat
islam. Sejak saat itu, secara politik, Spanyol berada di bawah kekuasaan
khalifah Bani Umayyah.
Abdurrahman Ibn Marwan menginjakkan kakinya di
Andalusia setelah lolos dari upaya pembunuhan atas dirinya ketika terjadi
revolusi Abbasiyah sekitar tahun 750 M. Ia dijuluki al-Dakhil, karena ia
merupakan pangeran Bani Umayyah pertama yang memasuki wilayah itu. Ia
menyingkirkan Yusuf Ibn Abd al-Rahman al-Fihri, Gubernur Andalusia yang tunduk
di bawah kekuasaan Abbasiyah, pada tahun 756 M.[1][1] Setelah itu, ia mengalahkan raja Roderick dan
Ratu Julian.[2][2] Dan al-Dakhil berhasil meletakkan sandi besar
yang kokoh bagi tegaknya Daulah Bani Umayyah II di Andalusia. Selama 32 tahun
masa kekuasaannya ia mampu mengatasi berbagai ancaman dari dalam negeri maupun
serangan musuh dari luar. Karena ketangguhannya itu ia dijuluki Rajawali
Quraisy. [3][3]
B. Masa Pemerintahan Bani Umayyah
Spanyol
Diantara khalifah-khalifah Umayyah II yang terkemuka diantaranya:
1.
Abdurrahman ad Dakhil (755-788 M)
2.
Al Hakam bin Hisyam (796-821 M)
3.
Abdurrahman ibnul Hakam (821-852 M)
4.
Muhammad bin Abdurrahman (852-886 M)
5.
Abdullah bin Muhammad (889-912 M)
Al Dâkhil berhasil meletakan sendi dasar yang kokoh
bagi tegaknya Daulah bani Umayyah II di Spanyol. Pusat kekuasan Umayyah di
Spanyol dipusatkan di Cordova sebagai ibu kotanya. Al Dâkhil berkuasa selama 32
tahun, dan selama masa kekuasaannya ia berhasil mengatasi berbagai masalah dan
ancaman, baik pemberontakan dari dalam maupun serangan musuh dari luar.
Ketangguhan al Dâkhil sangat disegani dan ditakuti, karenanya ia dijuliki
sebagai Rajawali Quraisy. Pada masa didirikannya dinasti Umayyah II ini,
umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan baik dibidang politik
maupun bidang peradaban. Abd al-Rahman al-Dakhil mendirikan masjid Cordova dan
sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol.
Hisyam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang
kemiliteran. Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Sedangkan Abd
al-Rahman al-Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu. Pemikiran
filsafat juga mulai pada periode ini, terutama di zaman Abdurrahman al-Ausath.
Bani Umayyah II mencapai puncak kejayaannya pada masa al Nashir dan
kekuasaannya masih tetap dapat dipertahankan hingga masa kepemimpinan Hakam II
al Muntashir (350-366/961-976).
Pada periode ini umat Islam Spanyol mencapai puncak
kemajuan dan kejayaan menyaingi kejayaan daulat Abbasiyah di Baghdad. Abd
al-Rahman al-Nasir mendirikan universitas Cordova.
Akhirnya
pada tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan
khalifah. Ketika itu Spanyol sudah terpecah dalam banyak sekali negara kecil
yang berpusat di kota-kota tertentu.
Kekuasaan Umayyah mulai menurun setelah al Muntashiru
wafat. Ia digantikan oleh putera mahkota Hisyam II yang beru berusia 10 tahun.
Hisyam II dinobatkan menjadi khalifah dengan gelar al Mu’ayyad. Muhammad
ibn Abi Abi Amir al Qahthani yang merupakan hakim Agung pada masa al Muntashir
berhasil mengambil alih seluruh kekuasaan dan menempatkan khalifah dibawah
pengaruhnya. ia memaklumkan dirinya sebagai al Malik al Manshur Billah
(366-393/976-1003) dan ia terkenal dalam sejarah dengan sebutan Hajib al
Manshur.
Kekuasaan Hakim Agung al Manshur diteruskan oleh Abd
al Malik ibn Muhammad yang bergelar al Malik al Mudhaffar (393-399/1003-1009).
Pada masa selanjutnya al Mudhaffar digantikan oleh Abd al rahman ibn Muhammad
yang bergelar al Malik al Nashir li Dinillah (399/1009) dan sejak saat itu
kestabilan politik Umayyah mulai merosot dengan terjadinya berbegai kemelut di
dalam negeri yang akhirnya meruntuhkan dinasti Umayyah.
Keruntuhan Bani Umyyah diawali dengan pemecatan al
Mu’ayyad sebagai khalifah oleh sejumlah pemuka-pemuka Bani Umayyah. Kemudia
para pemuka tersebut bersedia mengangkat al Nashir sebagai khalifah. Akan
tetapi pada kenyataanya dengan turunnya al Mu’ayyad perebutan kursi khilafah
menjadi tidak bias dihindari. Dalam tempo 22 tahun terjadi 14 kali pergantian
khalifah, yang umumnya melalui kudeta, dan lima orang khalifah diantaranya naik
tahta dua kali. Daulah muawiyah akhirnya runtuh ketika Khalifah Hisyam III ibn
Muhammad III yang bergelar al Mu’tadhi (418-422/1027-1031) disingkirkan oleh
sekelompok angkatan bersenjata.
C. Masa Kejayaan
dan Hasil Peradaban Bani Umayyah II
Pada masa
Abdurrahman an-Nashir inilah Bani Umayyah II mencapai puncak kejayaan dan masih
dipertahankan di bawah kepemimpinan Hakam II al-Mustansir (961-976 M).
Hasil peradabannya adalah:
1.
Perkembangan
Ilmu pengetahuan
Diantara
cendekiawan yang muncul adalah Abu Bakar Muhammad ibn al-Syigh (dikenal ibn
Bajjah-sejarah filsafat), Abu Bakar ibn Thufail (kedokteran, astronomi,
filsafat), Abi al-Mutasya, Yahya ibn Yahya, Isa ibn Dinar, Syaikh Abu Musa
Hawari, Said ibn Hasan, Ibnu al-Ahmar (sejarawan), Ahmad ibn Nasair
(astronomi), ibnu Masarah (filusuf), Said dan Yahya ibn Isyak (dokter). Selain
membangun universitad Kordova, Abdurrahman al-Dakhil juga merintis berdirinya
Universitas Sevila dan Toledo. Universitas-universitas tersebut menjadi sumber asli
kebudayaan Arab, non-Arab, Islam, Kristen, dan Yahudi selama berabad-abad.[5][5]
2. Perkembangan
fisik (kebudayaan)
oKetika al-Dakhil berkuasa, Kordova menjadi
ibukota negara. Ia membangun kembali kota ini dan memperindahnya, serta
membangun benteng di sekeliling kota dan istananya. Supaya kota ini mendapat
air bersih. Peninggalan al-Dakhil yang hingga kini masih tegak berdiri adalah
Masjid Jami Kordova. Akan tetapi ketika Kordova jatuh ke tangan Fernando II,
masjid ini dijadikan gereja dengan nama Santa Maria, tetapi di kalangan
masyarakat Spanyol lebih populer dengan sebutan La Mezquita, berasal
dari bahasa Arab al-Masjid.[6][6] Pembangunan yang lain adalah pembangunan
Jembatan sungai Gualdalquivir, Taman Munyal al-Rusafa, gedung-gedung besar,
masjid-masjid, air mancur, jembatan-jembatan, istana-istana, dll.[7][7]
3. Perkembangan
Seni, Budaya, Bahasa dan Sastra Arab
Amar ibn Ali
Gaffar merupakan seorang penyair yang termasyhur di masa itu. Selain itu,
muncul juga Zaryab (Al Hasan ibn Nafi) sebagai pemain musik yang
terkenal juga.[8][8]
D. Masa Kemunduran Bani Umayyah II
Sejak tahun 976 M sudah terasa kemunduran dalam
menerapkan sistem kekhalifahan, dan puncak kebangkrutannya pada tahun 1013 M.
Sekalipun memang cukup misterius dalam meneliti penyebab kemundurannya, namun
paling tidak diantara gejala umum penyebab utamanya adalah:
1.
Adanya
keretakan antara kelas atas dan bawah di mana tidak adanya komunikasi politik
yang intensif. Antara pegawai istana, ulama dan penguasa ekonomi tidak
menunjukkan hubungan yang erat dengan masyarakat malah lebih mengutamakan dan
selalu bergantung pada pemerintahan. Kelas bawah petani, buruh di desa-desa
kurang memperoleh hak-hak sosial yang memadai.[9][9]
2. Munculnya
khalifah-khalifah yang lemah
Setelah Hakam
II wafat daan di gantikan oleh Hasyim II yang baru berusia 11 tahun.
Dalam usia yang masih sangat muda ia harus memikul tanggung jawab yang sangat
besar. Karena tidak mampu menjalankan roda pemerintahan kemudian dikendalikan
oleh ibunya yang dibantu oleh Muhammad Ibn Abi Umar (Hajib Al Mansur) yang
ambisius dan haus kekuasaan. Sejak saat itu kholifah hanya dijadikan sebagai
boneka oleh Al-Mansur dan penggantinya. Ketika Al-Mansur Wafat di ganti oleh
anaknya Rahman, penguasa yang tidak punya kecakapan, gemar ber foya-foya dan
tidak disenangi rakyat sehingga negara menjadi tidak stabil dan lambat lalun
mengalami kemunduran.[10][10]
3. Konflik antara
islam dan kristen
Setelah menaklukkan Spanyol, penduduk Spanyol
dibiarkan memeluk agamanya, mempertahankan hukum dan tradisi mereka. Penguasa
islam hanya mewajibkan mereka membayar upeti, dan tidak memberontak. Kebijakan
ini ternyata menjadi bumerang. Penduduk spanyol menggalang kekuatan untuk
menyerang penguasa islam. Pertentangan
islam dan kristen tak berhenti sampai setelah jatuhnya islam. Orang-orang
Kristen selalu berasa bahwa kedatangan umat
Islam merupakan sebuah ancman.
Setelah kekuasaan Islam lemah, satu persatu kota-kota yang dikuasaai Islam
jatuh ke tangan orang Kristen.
4. Munculnya Muluk
Ath-Thawaif
Munulnya Muluk Ath-Thawaif (dinasti-dinasti
kecil) secara politis telah menjadi indikasai akan kemunduran islam di
Sepanyol, karena dengan terpecahnya kekuasaan kholifah menjadi dinasti-dinasti
kecil. Kekuaranpun mencadi terpecah-pecah dan lemah. Lemahnya kekuasaan islam
secara politis telah dibaca oleh orang-orang Kristen dan tak disia-siakan oleh
pihak musuh untuk menyerang imperium tersebut.[11][11]
5. Kemerosotan
ekonomi
Di paruh kedua masa islam Sepanyol, para
penguasa mementingkan pembangunan fisik dengan mendirikan bangunan-bangunan
megah dan monumental. Demikian juga dibidang iptek, pemerintah yang giat
mengembangkan bidang ini sehingga di bidang ekonomi kurang mendapat perhatian.
Selain itu banyak anggaran negara yang terserap untuk membiayai tentara bayaran
demi keamanan negara.
BAB IV
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1. Dinasti umayyah diambil dari nama
Umayyah Ibn ‘Abdi Syams Ibn ‘Abdi Manaf, Dinasti ini sebenarnya mulai dirintis
semenjak masa kepemimpinan khalifah Utsman bin Affan namun baru kemudian
berhasil dideklarasikan dan mendapatkan pengakuan kedaulatan oleh seluruh rakyat
setelah khalifah Ali terbunuh.
2. Sistem pemerintahan Dinasti Bani Umayyah
diadopsi dari kerangka pemerintahan Bizantium, dimana ia menghapus sistem
tradisional yang cenderung pada kesukuan.
3. Pada masa kekuasannya yang hampir satu
abad, dinasti ini mencapai banyak kemajuan. Dintaranya adalah: kekuasaan
territorial yang mencapai wilayah Afrika Utara, India, dan benua Eropa,
pemisahan kekuasaan, bidang seni dan sastra, bidang seni rupa, bidang
arsitektur, dan dalam bidang pendidikan.
4. Kemunduran dan kehancuran Dinasti Bani
Umayyah disebabkan oleh banyak faktor, dinataranya adalah: perebutan kekuasaan
antara keluarga kerajaan, konflik berkepanjagan dengan golongan oposisi Syi’ah
dan Khawarij, pertentangan etnis suku Arab Utara dan suku Arab Selatan, ketidak
cakapan para khalifah dalam memimpin pemerintahan dan kecenderungan mereka yang
hidup mewah, penggulingan oleh Bani Abbas yang didukung penuh oleh Bani Hasyim,
kaum Syi’ah, dan golongan Mawali.
B.
Saran
1.
Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pemakalah dan
seluruh pembaca. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan maka dari itu saya
mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kemajuan dan kesempurnaan di
masa mendatang.
2. Semoga makalah ini dapat dikembangkan
lagi ke studi berikutnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar