MAKALAH
DINASTI MUGHAL
Disusun Oleh:
1.
Mushodiq Irfansyah (15410077)
2.
Luvia Dwi Arianti (15410078)
3.
Nila Syifa Nuzula (15410079)
4.
Nindya Alifia Tittandi (15410080)
5.
Fitriana Nur Khasanah (15410081)
Dosen
Pengampu : H. Abdul Malik Usman
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
TAHUN 2015
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Puji
syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga
dapat menyelesaikan makalah ini.
Sholawat
serta salam semoga tetap tercurah kepada baginda tercinta Nabi Agung Muhammad
SAW yang kita nanti-nanti syafa’at beliau di Yaumul qiyamah kelak. Amiin.
Makalah
ini ditulis agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang “Dinasti Mughol” yang
kami sajikan berdasar referensi-referensi dari buku.
Makalah ini disusun dengan berbagai halangan
dan rintangan. Baik itu yang datang dari diri kami ataupun yang datang dari
luar. Kami yakin bahwa makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan
seperti peribahasa “Tiada Gading yang Tak
Retak”.
Kami
mengucapkan terima kasih kepada Bapak H. Abdul Malik Usman selaku Dosen Sejarah
Kebudayaan Islam dan Budaya Lokal yang telah membimbing kami, sehingga dapat
menyelesaikan makalah ini.
Semoga
makalah ini dapat memberi pengetahuan dan bermanfaat bagi para pembaca.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Yogyakarta, 1 Desember
2015
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Situasi politik dan peradaban Islam pada abad ketiga belas menserminkan
kemunduran politik dan memperlihatkan kondisi peradaban yang memprihatinkan.
Namun, kondisi itu berubah dengan munculnya Mesir menjadi kekuatan politik
tunggal sekaligus menjadi pusat peradaban Islam menggantikan Baghdad. Kemajuan-
kemajuan yang dicapai oleh Kerajaan Mamluk di Mesir telah mengukir kembali
kemajuan ilmu pengetahuan, kemiliteran maupun bidang- bidang lain turut
berkembang dengan baik.
Hal ini dilanjutkan di
belahan dunia Islam lainnya, seperti di Turki dengan keberadaaan Kerajaan
Usmani, kerajaan Safawiyah di Persia dan Kerajaan Mughal di India. Kerajaan-
kerajaan inilah yang menjadi kajian pembahasan dalam Sejarah Islam Pertengahan.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
Kerajaan- kerajaan apakah yang pernah berkuasa di India?
2.
Bagaimana situasi politik, ekonomi, dan keagamaan di India ?
3.
Bagaimana kemajuan peradaban Islam di India ?
4.
Apa penyebab kemunduran dan kehancuran Kerajaan Mughal?
C. TUJUAN
1.
Dapat menjelaskan kerajaan- kerajaan yang pernah berkuasa di India
2.
Dapat menjelaskan tentang situasi politik, ekonomi, dan keagamaan
3.
Dapat menjelaskan kemajuan peradaban Islam
4.
Dapat menjelaskan penyebab kemunduran hingga berakhirnya Kerajaan
Mughal
BAB II
PEMBAHASAN
A. SEJARAH BERDIRINYA KERAJAAN MUGHAL
Dalam sejarah bangsa Mongol dikenal sebagai
bangsa pemusnah dan perusak peradaban Islam yang telah didirikan oleh Bani
Abbas. Baghdad sebagai pusat peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah
ilmu pengetahuan yang lenyap dibumi dan hangus dibawah pimpinan Hulagu Khan.
Tetapi kemudian anak cucu dan keturunannya telah menjadi pendukung, pengembang
peradaban Islam secara teguh dan bijakasana. Dan bahkan menjadi penyiar Islam
yang gagah perkasa dan kadang-kadang menjadi fanatik menganut suatu paham
madzhab Islam yang diyakininya.
Diantara
keturunan itu ialah Timur Lenk, artinya timur si pincang. Dengan kakinya yang
pincang tidak menghalanginya buat menjadi seorang penakhluk yang besar. Dari
keturunan Timur Lenk muncullah Abu Said yang turunan terakhirnya. Dari Abu Said
muncullah Umar sheikh Mirza. Dari Umar lahirlah “Zahiruddin Muhammad Babur” dan
lebih terkenal nama kecilnya ‘babur’ yang artinya “si macan atau harimau”.
Dalam buku “seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah” karya (Michael
H. Hart) mengatakan bahwa Babur adalah sebagai pendiri kerajaan Mughal yang
merupakan cicit Timur Lenk.
Babur
inilah yang dikenal sebagai pendiri kerajaan Mughol, kerajaan Islam terbesar di
India dengan daerah kekuasaan yang luas, sehingga bangsa dan umat yang lain
segan terhadap Islam. Jika kemegahan Islam di Andalusia ditegakkan oleh Bani
Umayyah, dan di Baghdad menjadi semarak di zaman Bani Abbas, maka bertambah
indahlah permata ranrai sejarah
Islamdengan adanya kerajaan Mughol di India.
Babur
nama lengkapnya adalah “Zahiruddin Muhammad Babur”. Lahir pada hari Jum’at
tanggal 24 Februari 1483 M., dan meninggal pada tanggal 26 Desember 1530 M.
Ayanya bernama “Umar Syeikh Mirza”, keturunan kelima dari Timur Lenk dan
penguasa Farghanah atau Khokand (sebuah negara kecil dari Asia Tengah) . Sedangkan
ibunya berasal dari keturunan Jengis Khan dari Jekutai Khan. Dengan demikian,
garis keturunan Babur berasal dari Timur Lenk pada garis keturuan Ayahnya. Dan
dari Jengis Khan dari pihak ibunya. Kedua tokoh tersebut merupakan dua
penakhluk besar Asia.
Pada
umur 11 tahun, Babur mewarisi daerah Farghanah dari orangtuanya yang telah
meninggal dunia. Di usia yang masih relative muda, Babur sudah menunjukkan
keberanian yang luar biasa. Dia mendapat latihan sejak dini, yang cocok untuk
membuatnya menjadi seorang pejuang dan penguasa besar. Setelah naik tahta,
Babur segera membuat rencana untuk mengembalikan kekuasaan di Asia Tengah yang
pernah diperoleh nenek moyangnya (Timur Lenk). Dua kali Babur merebut
Samarkand, tetapi dia selalu gagal mempertahankannya, dan bahkan dia kehilangan
ibukota Farghanah.
Penyerbuan
Babur yang senantiasa mendapat perlawanan kuat tidak menjadikannya patah
semangat, bahkan membuatnya menjadi seorang pengembara. Dia senantiasa berjuang
dan melakukan invasi dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Dan Babur memutuskan
untuk meninggalakan Farghanah dan bertekad menguasai daerah lainnya. Dengan
bantuan raja Khurasan, Babur dengan berani menyeberangi Hindukush dan merebut
Kabul dan Ghaznahpada tahun 1504 M. setelah itu babur sekali lagi ingin
memantapkan kembali kedudukannya di Asia Tengah sebagai penerus Timur Lenk.
Dengan bantuan Shah Ismail Safavi dari Persia, dan Babur melawan Shaibani Khan,
kepala suku Uzbeg untuk menduduki Samarkand. Sekali lagi Babur mengalami
kegagalan.
Karena
putus asa dalam mempertahankan dan merebut Samarkand, Baber kembali ke Kabul
dan menyusun rencana baru unuk menguasai wilayah dibagian Timur. Kekayaan india
telah meggoda semangat petualangan Babur dan menggelorakan khayalannya untuk menguasai India.
Penyerbuan
pertama ke India diarahkan kepada orang-orang Yusufzais pada tahun 1516 M.
Selanjutnya pada tahun 1520 M. babur mengirim ekspidisi untuk melawan Bajaur.
Dan pada tahun 1524M. Babur menyerbu Dipalpur. Namun demikian Babur harus
mundur ke Lahore dan kembali ke Kabul.
Ketika
terjadi perpecahan diantara keluarga dinasti Lodi dari kesultanan Delhi, Daulat
Khan Lodi (gubernur Punjab) dan Alam Khan (paman Ibrahim Lodi) mengundang Babur
untuk menyerang India. Babur menanggapi ajaran mereka, dan bersama-sama
menyerang India dan mengalahkan Ibrahim Lodi di Panipat pada tahun 1526 M.
B. RAJA-RAJA TERKENAL PADA MASA DINASTI MUGHAL
1.
Zahiruddin Muhammad Babur (1526-1539 M)
Zahiruddin
Muhammad Babur dilahirkan pada hari Jum’at tanggal 24 Februari 1483 M. Ayahnya,
Umar sheikh mirza, keturunan kelima dari Timur yang agung, adalah penguasa
Ferghana atau Khokand, suatu negeri kecil tetapi indah di daerah aliran
Jaxertes bagian atas. Dari pihak ibunya dia mempunyai hubungan darah dengan
Jengiz Khan. [1]
Pada tahun 1494
M, wafatlah ayahnya (5 Ramadhan 899 H). di usianya ketika itu baru 12 tahun.
Sehingga pada tahun 1497 M, telah dicobanya menaklukkan negeri-negeri disebelah
Iran ke bawah kuasanya. Tetapi di sana dia berjumpa dengan seorang lawan yang
kuat, yaitu Muhammad Khan ayibani, Raja di negeri Bukhara. Dalam pertempuran
yang besar, Babur terpaksa mengundurkan diri ke daerah Afghanistan, di tahun
1504 M, dapatlah dikuasainya negeri Kabul dan Kandahar, sehingga menjadi
rajalah ia.
Sebagai juga
Mahmud Ghaznawi yang terdahulu daripadanya, dia mendapat kekuatan besar
tersebab tentara yang mengikutinya ialah bangsa-bangsa yang suka berperang, dan
terkenal gagah berani di dalam pertempuran, yaitu bangsa Turki dan Afghanistan.
Selain daripada keberanian berperang, mereka menyokong sangat maksud Babur
hendak menaklukkan India, karena dari dahulu selalu penyerangan ke India itu
membawa keuntungan yang besar dan harta benda yang berlimpah ruah. Kekayaan
India tidaklah akan habis-habisnya, walaupun telah berulang kali penakluk yang
lain datang kesana lebih dahulu.
Maka di tahun
1525 M, dengan hanya 13.000 orang tentara, Babur telah menurun ke Punjab dan
menaklukkannya. Pertahanan Punjab yang jauh lebih besar, tidaklah mempunyai
daya lagi, sebab Babur datang dengan Meriam yang baru sedikit dikenal pada
waktu itu.
Kerajaan Islam
di Delhi ketika itu diperintah oleh Sultan Ibrahim II. Terbuka bagi Babur untuk
memimpin tentaranya langsung ke Delhi, sebab Sultan Ibrahim sedang bersengketa
dengan pamannya pangeran A'lam. Dengan kekuatan 100.000 tentara beserta 1000
kendaraan gajah, Sulttan Ibrahim mempertahankan negerinya dengan gagah dan
gigih. Maka pada tanggal 21 April 1526 M, terjadilah pertempuran besar di
Panipat (Jum’at 8 Rajab 932 H). Sultan yang malang itu tewas dalam pertempuran
yang hebat itu, dan kalahlah perangnya.[2]
Maka masuklah
Babur kedalam kota Delhi dan di dalam masjid besar Delhi dipermaklumkanlah
keangkatan Babur menjadi Sultan Hindustan yang besar sementara itu puteranya
Hamayun disuruhnya pula menaklukkan ibu kota kedua, yaitu Agra. Kemudian itu
berturut-turut pula ditakukkan kota-kota lain.
Sedemikianlah
Babur berjuang siang malam sampai lima tahun lamanya, untuk mendirikan kerajaan
Mughal di India yang terkenal dan jaya itu, yang diperintah oleh anak cucu
keturunannya, sampai 200 tahun lamanya.
Sultan Babur
terkenal karena gagah perkasanya. Selain itu, dia amat menyukai syair Robayat
Omar Khayam. Kumpulan syair-syair ciptaannya itu telah pernah dibukukan orang,
dengan nama “Babur Nameh” dalam Bahasa Turki, dan telah dicetak di Kazan pada
tahun 1857 M, dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Persia oleh Abdur Rahim Mirza
Khan.
Di tahun 1530
M, mangkatlah raja pahlawan yang mendirikan kerajaan Mughal India itu, yang
selama 200 tahun menguasai seluruh India, dan diakui kerajaan zaman itu oleh
penduduk Hindustan.[3]
2.
Humayun (1530-1556 M)
Babur digantikan
oleh anaknya yang tertua, Humayun, yang memerintah selama sepuluh tahun. Dia
adalah orang yang rendah hati, gagah berani, cerdas, dan cakap dalam hal yang
memerlukan energy yang besar, tetapi tidak dalam usaha keras terus-menerus. Dia
tidak memiliki kebijaksanaan politik dan keterampilan diplomatik, begiru pula
tekad yang kuat dan keuletan ayahnya.[4]
Pada tahun 1540
M, berulanglah pertempuran di dekat Kunuj. Di sinipun Syir Khan ternyata lebih
kuat, sehingga Hamayun dapat diuisrnya karena menderita kekalahan besar. Banyak
meriamnya tercecer ketika lari dan banyak harta bendanya menjadi rampasan, sehingga
larilah Hamayun ke pegunungan Afghanistan. Tiga belas tahun lamanya Hamayun
mengembara di Afghanistan dengan cita-cita yang tidak pernah padam hendak
merebut Delhi kembali. Pada tahun 1545 M, dapatlah ia menguasai Kandahar dan
pada tahun 1550 M, dapatlah pula dikuasainya Kabul, semua dengan bantuan Syah
Tahmasab.
Syir khan,
tinggallah ia dengan serba kemenangan di dalam kota Delhi dan Agra. Merampas
kembali singgasana pusaka Babur dan menegakkan kembali kekuasaan bangsa Afghan
di negeri itu, sampai dia meninggal pada tahun 1545 M. tetapi anak-anaknya
tidaklah dapat memelihara pusaka ayahnya Syir Khan itu. Mereka rebut-merebut
kekuasaan, sehingga kekuatan mereka pecah. Hal ini diperhatikan benar oleh
Hamayun, maka disusunnyalah tentara yang terdiri dari 15.000 tentara berkuda,
dan dimasukinya terlebih dahulu negeri Punjab. Dari sana diteruskan perjalannya
menuju Delhi. Oleh karena alat perkakas Hamayun lebih cukup, ditambah dengan
keberanian tentara berkuda, dapatlah tentara Iskandar Syah dikalahkan (1555 M).
Tetapi belum cukup setahun setelah dia duduk kembali di atas singgasana,
Humayun mangkat (1556 M).[5]
C. SITUASI POLITIK, EKONOMI, DAN KEAGAMAAN
1.
Situasi Politik
Dari sekian raja yang
ada, ada sekitar 6 raja dianggap sebagai raja yang besar, berwibawa dan
disegani. Raja tersebut adalah Zahiruddin Babur, Nashiruddin Humayun,
Jalaluddin Akbar (Akbar Agung), Nuruddin Jihangir, Syihabuddin Syah Jihan, dan
Muhyiddin Aurangzib ‘Alamngir.
2.
Situasi Ekonomi
Dalam bidang ekonomi, dinasti mughol dapat
mengembangkan sektor pertanian, pertambangan dan perdagangan. Akan tetapi,
sumberkeuangan Negara lebih banyak bertumpuh pada sektor pertanian. Pada sektor
pertanian, komunikasi antar pemerintah dan petani diatur dengan baik. Peraturan
itu didasarkan atas lahan pertanian. Deh merupakan unit lahan pertanian
terkecil, dan beberapa deh digabung dalam pargana (desa). Komunitas petani
dipimpin oleh seorang Mukaddam, dan mukaddam itulah pemerintah berhubungan
dengan para petani. Kerajaan berhak atas sepertiga dari hasilpertanian di
negeri itu. Hasil pertanian kerajaan Mughol yang terpenting saat itu :
biji-bijian, padi, kacang, tebu, sayur-sayuran, rempah-rempah, tembakau, kapas,
nila serta bahan-bahan celupan.
Hasil pertanian itu juga diekspor ke Eropa,
Afrika, Arabia, dan Asia Tenggara yang bersamaan dengan hasil kerajinan,
seperti: pakaian tenun dan kain tipis, bahan gorden yang banyak diproduksi di
Gujarat dan Benggala. Untuk meningkatkan produksi, Sultan Jehangir mengizinkan
Inggris pada tahun 1611 M. dan Belanda pada tahun 1617 M. untuk mendirikan
pabrik pengolahan hasil pertanian.
Kepada pemungut pajak diperintahkan dengan
keras supaya jangan memaksa dan memeras kalau terjadi pacceklik dan hasil bumi
dalam suatu musim-musim yang amat buruk, diperintahkan untuk mengeluarkan
bantuan bibit dan pupuk kepada petani. Sultan Akbar juga mengadakan persediaan
untuk memberantas kelaparan yang kerap kali menimpa rakyat karena kurangnya turun
hujan. Baik maharaja Hindu maupun Amir Islam dapat dihukum berat dengan tidak
mengenal ampun jika mereka memeras rakyat yang inggal dalam tanah wilayahnya.
Penghasilan negara pada zaman pemerintahan
Sultan Akbar kira- kira 500 juta poundsterling pertahun. Pada zaman Aurangzeib
meningka sampai satu milyar pertahun. Jadi hasil pembelajaran negara dalam satu
tahun rata-rata dua milyar rupe atau 100 juta pound.
3.
Situasi Keagamaan
Pada permulaan Islam di
India bersifat politis, yakni tahap penaklukan dan penguasaan dari minoritas.
Mengembangkan hubungan dengan orang Hindu pada bidang keagamaan dan sosial
adalah suatu hal yang niscaya dilakukan. Perintis-perintis ini bukanlah para
ulama melainkan para sufi mulai abad ke-13 M. hingga seterusnya, berhasil mengislamkan
sejumlah besar kaum Hindu awam terutama di kasta-kasta bawah. Yang terjadi
kemudian adalah kecenderungan sinkretisme dalam beragama. Perkembangan politik
dari minoritas Islam yang berkuasa terhadap mayoritas Hindu yang besar telah
menimbulkan krisis spiritual Islam di India, sehingga muncul agama baru yaitu
Dini-i-Ilahi.
Semangat pembaharuan di
India kemudian dipelopori oleh tokoh yang paling berjasa dalam hal ini adalah
Syekh Ahmad Sirhindi pada pertengahan abad ke 16 M., yang banyak mengkritik sufi
Ibn Al-Arabi dan memiliki banyak murid yang menyebar untuk mengajarkan praktek
sufi yang sudah diperbaharui.
Pada masa pemerintahan
Akbar, kehidupan keagamaan yang harmonis, tercipta. Meskipun beliau penganut
madzhab Ahli sunnah, tetapi madzhab lain juga berkembang dan diberi
perlindungan yang istimewa, seperti madzhab Syi’ah. Bahkan tokoh Syi’ah Syekh
Fathullah Syirazi diangkatnya menjadi penasehat agama.
Sultan Akbar dikenal
senang terhadap ilmu tasawuf. Tokoh tasawuf Mubarak dan kedua puteranya Abul-
Faidl dan Abul-Fadhl menjadi orang yang terdekat kepada beliau.
Kemudian Sultan Akbar
untuk menambah pengetahuannya tentang agama-agama lain, beliau
memerintahkanmenyalin kitab-kitab Ramayana dan Mahabrata ke dalam bahasa
Persia, lalu disuruhnya orang membacakan dihadapan beliau, dan beliau
mendengarkan dengan sangat penuh perhatian. Malam hari dipanggilnya seorang
Brahman terkenal di zaman itu bernama Dabi, lalu dipelajarinya hikmah-hikmah
hindu dan kepercayaan trimurti. Disamping itu dipelajarinya pula agama Budha
sedalam-dalamnya, sehingga beliau sangat hormat kepada Budha Gautama. Agama
Nasranipun mendapat perhatiannya, yakni dengan mengundang pendeta-pendeta
Kristen datang ke istana pada tahun 1580 M. Beliau juga memerintahkan agar
kitab Injil diterjemahkan kedalam bahasa Persia. Beliau menyerahkan putranya
Murad belajar ilmu pengetahuan umum kepada pendeta- pendeta katolik. Kemudian
diizinkannya pendeta-pendeta Jezuit membuka madrasah di Agraan.
Kehidupan keagamaan pada
masa pemerintahan kerajaan mughol Islam mengedepankan toleransi, masyarakat
dijamin kedudukan dan keyakinan untuk menentukan pilihannya. Terbukti pada masa
pemerintahan Sultan Akbar, beliau mengakomodir agama-agama untuk mengembangkan
ajarannya dan bahkan beliau sendiri turut mempelajarinya.
D. KEMAJUAN PERADABAN ISLAM
1.
Bidang Seni, Arsitektur dan Ilmu Pengetahuan
a). Seni Bangunan
Dalam sejarah perkembangan
kebudayaan Islam di berbagai Negara, adakalanya kebudayaan dan kesenian Islam
dapat menduduki dan menggantikan kebudayaan lama yang terdapat pada
negeri-negeri yang baru dimasukinya, akan tetapi ada kalanya kebudayaan dan
kesenian itu,sudah sedemikian tingginya, sehingga kebudayaan yang datang
kemudian tidak dapat menguasai seluruhnya. Dalam hal seperti ini biasanya
terjadi akulturasi, percampuran kebudayaan yang melahirkan kebudayaan baru.
India terkenal amat luas, dengan
penduduknya yang cukup padat dan bukan hanya diperintah oleh seorang raja,
melainkan banyak raja- raja yang berkuasa pada daerah-daerah tertentu. Dengan
terbentuknya kerajaan- kerajaan Islam di India, maka mulailah timbul suatu
kesenian baru yaitu kesenian Islam.
Kemajuan kebudayaan Islam yang
dicapai dinasti Mughal di India, merupakan deretan kemegahan Islam disamping
kerajaan Abbasiyah di Baghdad, Bani Umayyah di Damaskus, Turki di
konstatinopel, Fathimiyah di Kairo, dan kerajaan Bani Umayyah di Cordova.
Seni bangunan Islam di India,
menunjukkan beberapa tingkatan proses perkembangan yang telah dilaluinya, pada
abad pertama masuknya agama Islam di India, terlihat usaha untuk menonjolkan
corak kearaban dalam seni bangunan dengan tidak mengambil perhatian terhadap
corak kesenian Persia dan Hindu. Kemudian seni bangunan tersebut diwarnai oleh
pengaruh kesenian Persia dan Hindu. Gaya campuran muncul karena disebabkan oleh
raja-raja atau atau sultan-sultan yang memerintah pada waktu itu kebanyakan
berasal dari Persia dan turunan Mongol. Lama-kelamaan perpaduan kesenian antara
Hindu dan Persia ditambah dengan gaya Arab, perpaduan dari ketiga gaya ini
telah menjelma di istana- istana dan masjid- masjid yang amat menakjubkan.
Bangunan-
bangunan Islam yang dibangun pada masa dinasti Mughal :
1.
Turbah Raja Akbar
Turbah atau masjid,
makam Sultan Akbar terletak di kota Iskandariah dekat kota Aqra. Beliau
terlebih dahulu memilih tempat dimana ia akan beritirahat selama- lamanya.
Karena Turbah ini dikerjakan waktu beliau masih hidup. Dan Sultan Akbar wafat
sebelum turbahnya yang indah selesai dibuat, kemudian Syah Jihan melanjutkan
penyempurnaan makam tersebut. Dan sampai sekarang merupakan makam (tempat
ziarah) yang ramai dikunjungi oleh para pengunjung dari berbagai Negara.
Salah satu kegemaran
Sultan Akbar ialah membangun majid-masjid dan istana yang Indah. Sultan
Akbarlah yang mendirikan kota Fathfur Sikri pada tahun 1560 M. dengan renana
dikerjakan selama 10 tahun.
2.
Taj Mahal
Terdapat dalam kota
Aqro, banyak berdiri bangunan- bangunan Islam yang dibangun menurut ragam Hindu
Persia. Salah satunya Taj Mahal didirikan oleh Sultan Syah Jihan pada tahun
1631 M. sebagai lambang kebesaran cinta Syah Jihan terhadap permaisuri yang
sangat dicintainya yang bernama “Mumtaz Mahal” yang lebih dahulu wafat dari
sultan sendiri. Kemudian namanya diganti Taj Mahal (Mahkota Mahal), yang
berarti pula bahwa diatas kepala tempat istirahatnya itu terdapat bangunan yang
menghiasi puncaknya, seolah-olah setelah wafatnya masih mempunyai kedudukan
sebagai permaisuri.
Taj Mahal terbuat dari
marmer putih (albast), pualam dan batu permata yang didatangkan dari luar
India. Yang dibangun diatas suatu tempat persegi yang lima meter tingginya dari
tanah dan luasnya 100x100 m, pada keempat penjurunya terdapat menara
bertingkatyang terbuat dari albast juga untuk memperlihatkan kesucian
Bangunan tersebut
mempunyai empat buah pintu yang besar dan menghadap ke tiap- tiap penjuru.
Tinggi masing-masing pintu 20 m, masing-masing pitu ditutup dengan kubah yang
cantik dan dibangun menurut langgam Persia dengan lengkung yang berbentuk
limas, diatasnya terdapat sebuah kubah yang tingginya dari tanah 80 m, sebagai
mahkota kerajaan yang menghiasai dan melindungi kedua manusia yang berada di
bawahnya.
Ditengah ruangan yang
indah permai, terdapat makam Syah Jihan yang berdampingan dengan makam
permaisuri Mumtaz Mahal. Kedua makam tersebut terbuat dari marmer putih dihiasi
dengan berbagai ukiran yang motifnya daun- daun kembang dan tulisan arab yang
amat indah dan halus buatannya, serta bertaburan permata lazuardi, zabaejad dan
permata mutu manikam. Kedua makam ini dikelilingi dengan pagar yang terbuat
dari kayu berukir, tingginya kira-kira 1,30 m.
3.
Masjid Moti
Bangunan lain yang
didirikan oleh Sultan Syah Jihan adalah
masjid moti di kota Aqro, yang didirikan pada tahun 1656 M. dan dikenal juga
dengan nama masjid Luk-Luk (mutiara). Merupakan masjid terindah di kota Aqro.
4.
Masjid Akbar Delhi
Selama pemerintahan
raja-raja Mughal di kota Delhi banyak didirikan bangunan- bangunan keagamaan,
di antaranya Masjid Akbar atau Masjid Raya Delhi, yang dibangun pada tahun 1650
M. Pada bagian depan masjid ini terlihat pintunya besar yang dibentuk menurut
langgam Persia dengan lengkung melimas dan dihiasi dengan lengkungan kecil-kecil.
Pada bangunan terdapat
anak tangga yang menuju ke ruang dalam. Dua menara adzan yang tinggi menjulang
berdiri dengan megah, di sisi kiri dan kanan bangunan. Tiga buah kubah besar
yang menghiasi masjid ini menurut ragam Persia yang paling mengesankan bentuknya
yang menyerupai bentuk bawang. Satu yang terbesar diantara ketiganya terdapat
di tengah bangunan.
Di depan masjid ini
terdapat Saham-Jami’ (lapangan) yang luas dan di tengah-tengah dibuat kolam.
Bentuk keseluruhan Masjid Akbar Delhi
ini nampaknya perpaduan yang harmonis antara ragam bangunan Hindu dan
Persia.
b). Seni Lukis
Pada saat pertama
masuknya agama Islam ke India sampai awal berdirinya Kerajaan Mughal, seni
lukis tidak populer, baik dikalangan bangsawan maupun pada kalangan rakyat jelata.
Bahkan sebaliknya salah seorang raja Tuglak telah memerintahkan untuk membuang
semua lukisan yang menghiasi dinding- dinding istananya, seningga dari zaman
terebut hampir tidak ada warisan peninggalan- peninggalan yang berharga dalam
bentuk seni lukis.
Kedatangan agama
Islam dan berdirinya kerajaan Islam Mughal beberapa abad lamanya, sudah tentu
banyak pula berpengaruh dalam lapangan kebudayaan dan kesenian.
Pada zaman
kerajaan Mughal di India, seni lukis hanya berkembang dikalangan bangsawan dan raja-raja,
dinding- dinding istana dan buku- buku dilukis dengan indah. Adapun rakyat
tetap buta dalam lapangan kesenian tersebut dan sebagian besar menganggap bahwa
seni lukis tidak baik menurut pandangan Islam. Oleh sebab itu, dizaman Mughal
tersebut tidak lahir seniman yang terkenal dari rakyat jelata.
Sekalipun Mir
Sayid Ali termasyhur sebagai seorang seniman yang banyak melukiskan suasana
kehidupan di pedesaan, tetapi dia sendiri tetap hidup dalam lingkungan istana,
inilah sebabnya dikatakan bahwa seni lukis pada masa itu bersifat otokrasi dan
feudal.
c). Ilmu Pengetahuan
Dalam bidang ilmu
pengetahuan tidak mengalami kemajuan, bahkan menurun dibandingkan dengan
masa-masa sebelumnya. Dalam bidang ini umat islam cenderung taklid pada
imam-imam masa klasik. Kalaupun ada ijtihad pada masa itu lebih Al-ijtihad fi
Al-madzhab, bukan hasil pikiran yang mandiri. Beberapa sains yang berkembang
bahkan ada yang dilupakan. Filsafat dianggap bid’ah.
Masyarakat umat
Islam memilih sufisme sebagai jalan hidup dan mempengaruhi sikap fatalistic.
Menurut Fazlur Rahman di India pada masa kerajaan Mughal minat dalam bidang
studi filosofis memang timbul pada abad ke 11 H/17 M. tetapi filsafat sendiri
telah demikian kering hingga merosot menjadi latihan-latihan teknis dari pada
hal-hal essensial.
2.
Bidang Pemberdayaan Perempuan
Kerajaan Mughal yang begitu tegar, diawali dengan perjuangannya
yang sangat panjang, ternyata meninggalkan pengaruhnya yang sangat mendalam di
India itu sendiri. Pada masa pemerintahan dinasti Mugghallah perempuan India
menikmati kebebasan yang berdasar keadilan dari ajaran agama Islam. Perempuan
dimuliakann kedudukannya dan pendapatnya dihormati. Pada masa Syah Jihan
dibangun makam yang megah untuk istri tercintanya yang wafat dan diberi nama Taj
Mahal. Perempuan memperoleh hak-haknya sebagai pribadi dan anggota masyarakat.
Di zaman Sultan Akbar misalnya, dikeluarkan larangan membakar diri bersama
mayat suamianya (sati) dan usia nikah laki-laki adalah 16 tahun serta perempuan
adalah 14 tahun agar keturunan mereka tidak lemah.
Dengan adanya
kebijakan politik Sultan Akbar tentang perkawinan tersebut, enunjukkan
penghargaan terhadap wanita oleh pemerintah Mughal bahwa wanita mempunyai
posisi yang tidak bisa diabaikan, baik berinteraksi dalam lingkungan keluarga,
masyarakat maupun istana. Begitu juga Syah JIhan merupakan sultan yang sangat
menghargai kedudukan wanita konstribusi pemikirannya mendapat tempat dan
dihormati.
3.
Bidang Agama
Pada masa Akbar,
perkembangan agama Islam di Kesultanan Mughal mencapai suatu fase yang menarik,
dimana pada masa itu Akbar memproklamasikan sebuah cara baru dalam beragama,
yaitu konsep Din-i-Ilahi. Karena aliran ini, Akbar dikritik dari
berbagai lapisan umat Islam. Bahkan Akbar dituduh membuat agama baru. Pada
praktiknya, Din-i-Ilahi bukan sebuah ajaran tentang ajaran Islam. Namun
konsepsi itu merupakan upaya mempersatukan umat-umat beragama di India.
Sayangnya, konsepsi tersebut mengesanka kegilaan Akbar terhadap symbol-simbol
agama yang dikedepankan. Umar Asasuddin, seorang peneliti dan Guru Besar di Fakultas Adab UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta menyamakan konsepsi Din-i-Ilahi dengan Pancasila di
Indonesia. Penelitiannya menyimpulkan,”Din-i-Ilahi itu merupakan semacam
ideologi/dasar pemerintahan Akbar dan Pancasila bagi bangsa Indonesia.”
Pada masa Aurangzeb
berhasil disusun sebuah risalah hokum Islam atau upaya kodifikasi hukum
Islam yang dinamakan fatwa Alamgiri. Kodifikasi ini
menurut hemat penulis ditujukan untuk meluruskan dan menjaga syari’at Islam
yang nyaris kacau akibat politik Sub-e-Kul dan Din-i-Ilahi.[6]
E. KEMUNDURAN DAN KEHANCURAN RAJA MUGHAL
Setelah satu setengah abad Dinasti
Mughal berada di puncak kejayaan, para pelanjut aurengzeb tidak sanggup
mempertahankan kebesaran yang telah dibina oleh sultan-sultan sebelumnya.
Kerajaan ini mengalami kemunduran pada abad ke-18 M. kekuasaan politiknya mulai
merosot, suksesi kepemimpinan di tingkat pusat menjadi ajang perebutan gerakan
separatis Hindu di India Tengah, Sikh di belahan Utara, Islam dibagian Timur
semakin lama semakin mengancam. Semetara itu, para pedagang Inggris untuk pertama kalinya diizinkan oleh
Jehangir menanamkan modal di India dengan didukung oleh kekuatan bersenjata
semakin kuat menguasai wilayah pantai.
Pada masa Aurengzib pemberontakan
terhadap pemerintah pusat memang sudah muncul tetapi dapat diatasi,
pemberontakan itu bermula dari tindakan-tindakan Aurengzib yang dengan keras
menerapkan pemikiran puritanismenya. Setelah ia wafat penerusnya rata-rata
lemah dan tidak mampu menghadapi problema yang ditinggalkannya. Dan tahta
kerajaan dipegang oleh Muazzam, putra tertua Aurengzib yang sebelumnya penguasa
di Kabul. Dan kemudian bergelar “Bahadur Syah (1707- 1712 M.)” yang menganut
aliran Syi’ah. Pada masa pemerintahannya selama lima tahun, ia dihadapkan pada
perlawanan Sikh sebagai akibat tindakan ayahnya, dan juga dihadapkan pada perlawanan
penduduk Lahore karena sikapnya yang terlampau memaksakan ajaran Syi’ah kepada
mereka.
Setelah Badur Syah meninggal diganti
oleh anaknya “Azimus Syah” yang mana terjadi perebutan kekuasaan di kalangan
keluarga istana, dan masa pemerintahannya ditentang oleh Zulfikhar Khan, yang
mendapat tantangan dari Farukh Syiar tahun1713 M. yang mana Farukh Syiar
berkuasa sampai tahun 1719 M. dengan dukukngan kelompok sayyid, tetapi tewas
ditangan para pendukungnya sendiri (1719 M.)
sebagai gantinya diangkat Muhammad Syah (1719-1748 M.) namun ia dan
pendukungnya terusir oleh suku Asyfar dibawah pimpinan Nadir Syah yang
sebelumnya telah berhasil melenyapkan kekuasaan Syafawi di Persia, keinginan
Nadir Syah untuk menundukkan kerajaan Mughol terutama menurutnya karena
kerajaan ini banyak sekali memberikan bantuan kepada pemberontak Afghan di
daerah Persia. Pada tahun 1739 M. dua tahun setelah menguasai Persia, ia
menyerang kerajaan Mughal. Muhammad Syah tidak dapat bertahan dan mengaku
tunduk kepada Nadir Syah. Muhammad Syah kembali berkuasa di Delhi setelah ia
bersedia memberi hadiah sangat banyak kepada Nadir Syah. Dan kerajaan Mughal
baru dapat melakukan restorasi kembali, terutama setelah jabatan wazir dipegang
oleh Chin Qilich Khan yang bergelar Nizam Al-Mulk meninggakan Delhi menuju
Hiderabad dan menetap disana.
Konflik- konflik yang berkepanjangan
mengakibatkan pengawasan terhadap daerah lama. Pemerintahan daerah satu persatu
melepaskan loyalitasnya dari pemerintahan pusat, bahkan cenderung memperkuat
pemerintahannya masing-masing. Desintegrasi wilayah kekuasaan Mughal ini
semakin diperburuk oleh sikap daerah, yang disamping melepaskan loyalitas
terhadap pemerintah pusat, juga senantiasa menjadi ancaman serius bagi
eksistensi dinasti Muhal itu sendiri.
Setelah Muhammad Syah meninggal, tahta
kerajaan dipegang oleh Akbar II (1806-1837 M.). dan penerus Akbar yaitu Bahadur
Syah (1837-1858 M.). terjadi perlawanan rakyat India terhadap kekuatan Inggris
pada bulan Mei 1857 M. perlawanan mereka dapat dipatahkan dengan mudah karena,
Inggris mendapat dukungan dari beberpa penguasa lokal Hindu dan Muslim. Inggris
kemudian menjatuhkan hukuman terhadap para pemberontak. Mereka diusir dari kota
Delhi, rumah ibadah banyak dihancurkan, dan Bahadur Syah (raja Mughal terakhir)
diusir dari istana (1858 M.). dengan demikian berakhirlah sejarah dinasti
Mughal di daratan India dan disana tinggallah umat Islam yang harus berjuang
mempertahankan eksitensi mereka.
Faktor penyebab
kehancuran kerajaan Mughal :
1.
Terjadi Stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi
militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera di pantau oleh
kekuatan maritim Mughal.
2.
Pendekatan Aurangzeb yang terlampau kasar dalam melaksanakan
ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antar agama
sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya
3.
Dekadensi moral dan gaya hidup mewah di kalangan elite politik,
yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang Negara
4.
Semua pewaris kerajaan pada masa terakhir adalah orang-orang lemah
dalam bidang kepemimpinan, sehingga tidak mampu menangani kemerosotan politik
dalam negeri.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1.
Dalam sejarah diketahui bahwa bangsa mongol dikenal sebagai bangsa
pemusnah India pada masa lalu meliputi negara India, Pakistan, dan Bangladesh.
2.
Di India telah lahir 4 agama yakni Hindu, Buddha, Jain, dan Sikh.
Agama Islam berkembang pesat sejak pertengahan abad VII M dari jazirah Asia
Barat.
3.
Ada lima dinasti Islam yang berkuasa di India mulai tahun 1206-1857
M. kelima Dinasti itu, ialah:
a.
Dinasti Budak (1206-1290)
b.
Dinasti Khilji (1290-1321)
c.
Dinasti Taghluk (1321-1388)
d.
Dinasti Lodhi (1450-1526)
e.
Dinasti Moghul (1526-1857)
Munculnya kerajaan Mughal pada tahun
1526 M. Dalam sejarah di ketahui bahwa bangsa Mongol dikenal sebagai bangsa
pemusnah dan perusak peradaban Islam yang telah didirikan oleh Bani Abbas.
Baghdad sebagai pusat peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu
pengetahuan lenyap dibumi hanguskan dibawah pimpinan Hulagu Khan. Tetapi anak
cucunya menjadi pendukung peradaban Islam secara teguh dan bijaksana.
Dalam situasi politik raja-raja yang besar,
berwibawa dan disegani yaitu :
Zahiruddin Babur, Nashiruddin Humayun, Jalaluddin Akbar, Nuruddin Jihangir,
Syihabuddin Syah Jihan, dan Muhyiddin Aurangzib Alamngir.
Dalam kemajuan peradaban Islam
terdapat bidang seni yang dipaparkan sebagian bangunan- bangunan Islam yang
dibangun pada masa Dinasti Mughal yaitu : Turbah Raja Akbar, Taj Mahal, Masjid
Moti, Masjid Akbar Delhi, Istana Syah Jihan.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Yunus, Abd. Rahim, dan Abu Haif. 2013. Sejarah Islam
Pertengahan. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
2.
Mufrodi, Ali. 1997. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab.Jakarta:
Logos
3.
Hamka. 1975. Sejarah Ummat Islam. Jakarta: Bulan Bintang
4.
Mahmudunasir, Syed. 1993. Islam Konsepsi dan Sejarahnya.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
5.
Syaefudin, Mahmud. 2013. Dinamika Peradaban Islam. Yogyakarta:
Pustaka Ilmu.
[1]Syed
Mahmudunnasir, Islam Konsepsi Dan Sejarahnya, 2005, PT. Remaja Rosdakarya,
Bandung. Hal…295
[2]
Prof. Dr. Hamka, sejarah umat Islam, 1975, Bulan Bintang, Jakarta. Hal…140-141
[3]
Prof. Dr. Hamka, op.cit. hal…142-143
[4]
Syed Mahmudunnasir, op.cit. hal...297-298
[5]
Prof. Dr. Hamka. Op.cit. hal…144-145
[6]Machfud Syaefudin,Dinamika Peradaban Islam.2013.
Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar